Fenomena Suka Latah dalam Kehidupan Sehari-hari
- 05 Apr 2026 15:18 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Suka latah merupakan perilaku spontan di mana seseorang secara tidak sadar meniru ucapan atau tindakan orang lain, biasanya sebagai respons terhadap kejutan atau rangsangan tertentu. Seperti dikutip dari laman pmc.ncbi.nlm.nih.gov dalam dunia psikologi, latah dikenal sebagai bagian dari gangguan refleks atau respons otomatis yang sering ditemukan di beberapa budaya, termasuk di Indonesia dan Asia Tenggara. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan biasa, tetapi memiliki aspek neurologis dan psikologis yang menarik untuk dipahami.
Dilansir dari laman www.healthline.com perilaku latah umumnya ditandai dengan mengulang kata-kata orang lain (echolalia), meniru gerakan (echopraxia), atau bahkan melakukan tindakan spontan tanpa kontrol penuh. Kondisi ini sering muncul ketika seseorang merasa terkejut, gugup, atau berada dalam tekanan sosial tertentu. Meskipun sering dianggap lucu atau hiburan oleh lingkungan sekitar, sebenarnya hal ini bisa membuat penderitanya merasa tidak nyaman atau malu.
Faktor penyebab latah dapat berasal dari berbagai aspek, seperti kebiasaan yang terbentuk sejak lama, pengaruh lingkungan sosial, hingga kondisi psikologis tertentu. Dalam beberapa kasus, latah juga dikaitkan dengan tingkat sugestibilitas yang tinggi, di mana seseorang lebih mudah terpengaruh oleh rangsangan dari luar. Lingkungan yang sering “memancing” reaksi latah justru dapat memperkuat kebiasaan tersebut.
Dampak dari kebiasaan suka latah tidak selalu negatif, namun jika berlebihan dapat mengganggu interaksi sosial dan menurunkan rasa percaya diri. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk mengelola respons diri melalui latihan kontrol emosi dan kesadaran diri. Dukungan dari orang sekitar juga sangat diperlukan, terutama dengan tidak sengaja memicu atau mengejek perilaku tersebut.
Kesimpulannya, suka latah adalah fenomena yang unik dan kompleks, melibatkan aspek psikologis, sosial, dan budaya. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat dapat lebih bijak dalam menyikapi perilaku ini, sehingga tidak hanya menjadi bahan candaan, tetapi juga dapat ditangani dengan pendekatan yang lebih empati dan suportif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....