Hipersomnia, “Hobi Tidur” Bisa Menjadi Gangguan Medis Serius

  • 27 Mar 2026 19:44 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Kebiasaan sering mengantuk atau “hobi tidur” kerap dianggap hal sepele oleh sebagian masyarakat. Namun, kondisi tersebut ternyata dapat berkaitan dengan gangguan tidur medis yang dikenal sebagai Hipersomnia, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami rasa kantuk berlebihan di siang hari meskipun sudah tidur cukup pada malam sebelumnya.

Informasi yang dikutip dari laman resmi polri.go.id menyebutkan bahwa gangguan ini bukan sekadar kelelahan biasa atau kebiasaan malas, melainkan kondisi medis yang dapat memengaruhi kemampuan berpikir, produktivitas, hingga keselamatan seseorang.

Tidur Lebih Lama, Namun Tetap Lelah

Secara umum, orang dewasa membutuhkan waktu tidur ideal sekitar 7–9 jam per malam agar tubuh tetap bugar dan fungsi kognitif berjalan optimal. Namun, pada penderita hipersomnia, durasi tidur dapat meningkat hingga lebih dari 11 jam dalam sehari, tanpa memberikan efek kesegaran saat bangun.

Bahkan setelah tidur panjang atau melakukan tidur siang, penderita tetap merasakan kantuk yang kuat, kelelahan, dan kesulitan untuk tetap waspada saat beraktivitas. Kondisi ini dikenal sebagai excessive daytime sleepiness (EDS), yaitu rasa kantuk berlebihan yang muncul di siang hari secara terus-menerus.

Dampak pada Konsentrasi dan Emosi

Hipersomnia tidak hanya memengaruhi kondisi fisik, tetapi juga berdampak pada aspek psikologis dan kognitif. Penderitanya dapat mengalami berbagai gejala seperti mudah marah, cemas, sulit berkonsentrasi, gangguan memori, kesulitan berbicara atau berpikir, hingga perasaan gelisah yang berkepanjangan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas penting seperti bekerja, belajar, dan bersosialisasi. Banyak penderita mengalami kesulitan mempertahankan pekerjaan atau menjaga hubungan sosial akibat rasa kantuk yang tidak terkendali.

Bukan Sekadar Malas atau Kurang Tidur

Sering kali masyarakat menyamakan hipersomnia dengan rasa malas atau kurang tidur. Padahal, kondisi ini berbeda dengan gangguan tidur lainnya seperti Insomnia, yaitu kondisi ketika seseorang kesulitan untuk tidur atau mempertahankan tidur di malam hari.

Hipersomnia juga berbeda dengan Narkolepsi, di mana penderita dapat tertidur secara tiba-tiba tanpa dapat dikendalikan akibat gangguan pada sistem saraf. Pada hipersomnia, penderita umumnya masih bisa menahan kantuk, meskipun rasa lelah sangat kuat dan terus-menerus.

Jenis Hipersomnia dan Penyebabnya

Secara medis, hipersomnia dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu hipersomnia primer dan sekunder. Hipersomnia primer mencakup kondisi seperti hipersomnia idiopatik, narkolepsi, hingga sindrom Kleine-Levin. Sementara itu, hipersomnia sekunder biasanya terjadi akibat kondisi medis lain, efek samping obat-obatan, penggunaan zat tertentu, atau kualitas tidur yang buruk dalam jangka panjang.

Karena penyebabnya beragam, penanganan gangguan ini juga berbeda. Pada kasus sekunder, fokus utama adalah mengatasi penyakit atau kondisi yang mendasarinya. Sedangkan pada hipersomnia primer, terapi tidur dan pengaturan pola hidup menjadi langkah utama yang dianjurkan oleh tenaga medis.

Risiko dalam Kehidupan Sehari-hari

Meski tidak selalu dikaitkan dengan penyakit kronis seperti hipertensi atau diabetes, hipersomnia tetap memiliki dampak serius terhadap kualitas hidup. Rasa kantuk yang terus-menerus dapat menurunkan kewaspadaan, memperlambat reaksi, dan meningkatkan risiko kecelakaan, termasuk saat berkendara atau bekerja dengan alat berat. Selain itu, kondisi ini juga dapat mengganggu stabilitas emosional serta hubungan sosial penderita. Aktivitas sehari-hari menjadi kurang optimal karena tubuh terus berada dalam kondisi lelah meskipun sudah cukup tidur.

Pentingnya Kesadaran Masyarakat

Pentingnya mengenali gejala hipersomnia sejak dini. Tidur yang terlalu lama disertai rasa kantuk berkepanjangan bukanlah kondisi normal yang dapat diabaikan begitu saja. Pola tidur yang teratur, menghindari konsumsi alkohol atau zat yang dapat mengganggu kualitas tidur, serta menjaga gaya hidup sehat menjadi langkah awal pencegahan. Namun, apabila gejala berlangsung terus-menerus, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab pastinya.

Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat, diharapkan gangguan tidur seperti hipersomnia tidak lagi dianggap sebagai hal biasa, melainkan kondisi medis yang membutuhkan perhatian serius agar tidak berdampak pada kesehatan, produktivitas, dan keselamatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....