Tips Cegah Keterlambatan Bicara pada Gen Beta di Era AI

  • 25 Mar 2026 09:34 WIB
  •  Manado
Poin Utama
  • Penggunaan gadget harus memiliki tujuan jelas dan dibatasi, karena minimnya interaksi langsung dapat memicu keterlambatan bicara pada anak.
  • Orang tua perlu aktif merespons setiap ocehan anak sejak usia dini agar kemampuan komunikasi dan verbalnya berkembang optimal.
  • Permainan seperti roleplay (masak-masakan, dokter-dokteran) penting untuk melatih kemampuan bicara, berpikir kritis, dan empati anak.

RRI.CO.ID, Manado - Generasi Beta (Gen Beta), yakni anak-anak yang lahir mulai tahun 2025 hingga 2039, diprediksi menjadi generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya di tengah ekosistem kecerdasan buatan (AI) yang matang. Berbeda dengan Generasi Z (1997–2012) dan Generasi Alpha (2010–2024), Gen Beta akan hidup berdampingan dengan teknologi yang semakin canggih dan terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.

Namun di balik kemajuan teknologi tersebut, muncul tantangan baru, salah satunya risiko keterlambatan bicara pada anak akibat minimnya interaksi langsung. Terapis wicara, Siti Maimonah, melalui akun tiktoknya Ibuk Siti Sang Terapis Wicara, menekankan pentingnya peran orang tua dalam memberikan stimulasi yang tepat sejak dini.

Terapis wicara, Siti Maimonah, saat memberikan edukasi terkait stimulasi bahasa pada Gen Beta melalui akun tiktoknya Ibuk Siti Sang Terapis Wicara.

“Yang pertama, orang tua harus bijak dalam menggunakan gadget, baik untuk anak maupun untuk diri sendiri. Pada usia 0–1 tahun, anak sangat membutuhkan respons terhadap ocehan mereka. Kalau orang tua sibuk dengan gadget, respon terhadap anak jadi terlambat,” ujar Siti.

Menurutnya, respons cepat terhadap ocehan bayi sangat penting untuk merangsang kemampuan verbal anak. Ketika anak merasa diperhatikan, mereka akan lebih termotivasi untuk terus mencoba berkomunikasi.

Selain itu, penggunaan gadget pada anak tetap diperbolehkan, namun harus memiliki tujuan yang jelas dan dibatasi. Salah satu contoh penggunaan yang dianjurkan adalah video call, karena tetap melibatkan interaksi dua arah.

“Boleh menggunakan gadget, tapi harus ada tujuannya. Misalnya video call, karena di situ ada interaksi, walaupun tetap harus dibatasi,” tambahnya.

Di tengah perkembangan AI dan teknologi digital, orang tua juga diimbau untuk tetap menstimulasi kemampuan berpikir kritis dan empati anak. Salah satu cara efektif adalah melalui permainan roleplay atau bermain peran, seperti masak-masakan dan dokter-dokteran.

“Permainan seperti itu sangat bagus untuk melatih komunikasi, imajinasi, sekaligus empati anak,” jelas Siti.

Sebagai perbandingan, Generasi Z dikenal sebagai digital native yang tumbuh bersama perkembangan internet dan media sosial. Sementara Generasi Alpha sudah lebih dekat lagi dengan teknologi sejak bayi, bahkan dijuluki “iPad Kids”. Gen Beta diprediksi akan melampaui keduanya dalam hal paparan teknologi, sehingga diperlukan pendekatan pengasuhan yang lebih bijak dan adaptif.

Dengan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan interaksi langsung, orang tua diharapkan mampu mencegah keterlambatan bicara sekaligus membentuk anak Gen Beta yang cerdas, komunikatif, dan berempati.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....