Melepaskan Diri dari Sikap People Pleasing: Belajar Hargai Diri Sendiri

  • 28 Feb 2026 18:16 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - People pleaser adalah istilah untuk seseorang yang cenderung berusaha menyenangkan orang lain, sering kali dengan mengorbankan kebutuhan, perasaan, atau batasan pribadinya sendiri. Mereka merasa nyaman ketika diterima, dipuji, atau dianggap “baik” oleh lingkungan. Sebaliknya, mereka bisa merasa sangat tidak nyaman saat menghadapi konflik, penolakan, atau kekecewaan dari orang lain.

Mengutip www.psychologytoday.com, biasanya, kecenderungan ini berakar dari pengalaman masa lalu, seperti pola asuh yang menuntut, lingkungan yang penuh kritik, atau pengalaman ditolak. Demi merasa aman dan diterima, seseorang belajar bahwa menjadi “penurut” dan selalu membantu adalah cara terbaik untuk bertahan. Lama-kelamaan, pola ini terbentuk menjadi kebiasaan yang sulit diubah.

Seorang people pleaser sering mengatakan “iya” meskipun sebenarnya ingin berkata “tidak”. Mereka takut dianggap egois, tidak peduli, atau mengecewakan. Akibatnya, mereka kerap kelelahan secara emosional karena terus-menerus menomorduakan diri sendiri dan memikul beban yang seharusnya tidak harus mereka tanggung.

Dalam jangka panjang, perilaku ini bisa berdampak pada kesehatan mental. Rasa marah terpendam, frustrasi, dan kehilangan jati diri bisa muncul karena terlalu sering mengabaikan kebutuhan pribadi. Ironisnya, semakin seseorang berusaha menyenangkan semua orang, semakin besar kemungkinan ia merasa tidak benar-benar dikenal atau dihargai secara autentik.

Belajar keluar dari pola people pleasing bukan berarti menjadi cuek atau egois. Justru, ini tentang membangun batasan yang sehat dan memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh seberapa banyak kita menyenangkan orang lain. Mengatakan “tidak” dengan tegas dan sopan adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat dibangun di atas kejujuran dan keseimbangan, bukan pengorbanan sepihak. Ketika seseorang berani menjadi dirinya sendiri, ia memberi kesempatan bagi orang lain untuk mengenal dan menerima dirinya apa adanya. Dan dari situlah rasa percaya diri serta kedamaian batin perlahan tumbuh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....