Waspada, Gejala Tumor Otak Anak Kerap Dianggap Keluhan Biasa
- 18 Feb 2026 14:07 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Tumor otak pada anak masih menjadi salah satu penyakit saraf yang kerap terlambat terdeteksi di Indonesia. Banyak orang tua menganggap gejalanya sebagai keluhan ringan, padahal kondisi ini bisa mengancam nyawa jika tidak ditangani sejak dini.
Dalam sebuah talk show kesehatan, dokter spesialis neurologi anak dari RS Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, Arie Khairani, ,menjelaskan bahwa tumor otak merupakan pertumbuhan sel yang tidak normal di jaringan otak. “Pertumbuhan ini membentuk massa yang menekan jaringan otak normal dan bisa meningkatkan tekanan di dalam rongga tengkorak,” katanya pada Sabtu, 14 Februari 2026.
Ia menyebut angka kejadian tumor otak pada anak di Indonesia diperkirakan sekitar 4 - 5 kasus per 100 ribu anak. Faktor risiko yang diduga berperan antara lain predisposisi genetik dan paparan radiasi, meski hubungan dengan faktor lingkungan seperti makanan dan polusi belum terbukti secara konsisten.
Menurut Arie, keterlambatan diagnosis sering terjadi karena gejala awal tumor otak tampak umum, seperti sakit kepala atau muntah. “Sakit kepala yang makin lama makin sering dan intensitasnya meningkat harus dicurigai, apalagi jika disertai gangguan keseimbangan atau penglihatan,” ujarnya.
Pada anak yang lebih besar, tumor otak juga bisa menyebabkan perubahan kemampuan motorik, seperti sering jatuh atau koordinasi tubuh menurun. Gangguan penglihatan, seperti pandangan ganda atau lapang pandang menyempit, juga termasuk tanda peringatan yang perlu diwaspadai orang tua.
Sementara itu, pada bayi, gejala sering kali sulit dikenali karena belum bisa mengungkapkan keluhan. Tanda yang perlu diperhatikan antara lain bayi rewel tidak biasa, ubun-ubun menonjol, tidak mau menyusu, tidur terus-menerus, serta pertambahan lingkar kepala yang cepat.
Arie menekankan pentingnya pemeriksaan medis jika orang tua merasa khawatir terhadap kondisi anak. “Kekhawatiran orang tua itu biasanya ada alasannya, jadi lebih baik diperiksakan daripada menunggu hingga gejalanya berat,” ujarnya.
Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan wawancara medis dan pemeriksaan fisik, lalu dilanjutkan dengan pencitraan otak seperti CT scan atau MRI. MRI dianggap lebih ideal untuk melihat ukuran dan batas tumor sebelum tindakan operasi dilakukan.
Setelah jaringan tumor diangkat atau diambil melalui biopsi, pemeriksaan patologi akan menentukan jenis dan tingkat keganasan tumor. Hasil ini menjadi dasar penentuan terapi lanjutan, seperti operasi, kemoterapi, radioterapi, atau kombinasi keduanya.
Menurut Arie, peluang kesembuhan lebih besar jika tumor terdeteksi pada tahap awal dan dapat diangkat secara menyeluruh. Namun, ia mengingatkan bahwa setiap kasus memiliki perjalanan penyakit yang berbeda dan membutuhkan penanganan yang sangat individual.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....