Berpura-pura Bahagia, Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Mental

  • 11 Feb 2026 06:48 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Berpura-pura bahagia atau yang kerap dikenal dengan istilah fake happiness maupun smiling depression merupakan kondisi ketika seseorang tampak baik-baik saja di luar, namun sebenarnya menyimpan tekanan emosional yang berat di dalam dirinya. Dalam jangka panjang, perilaku ini dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental, seperti memicu stres kronis, kelelahan emosional, depresi, hingga gangguan kecemasan.

Seperti dikutip dari laman resmi polri.go.id setiap orang tentu pernah mengalami berbagai permasalahan hidup yang dapat membawa mereka pada titik terendah. Tekanan tersebut sering kali memunculkan perasaan lelah, stres, dan cemas. Namun, norma sosial yang berkembang di masyarakat kerap mendorong individu untuk menutupi emosi negatif tersebut dan tetap menampilkan wajah ceria di hadapan orang lain.

Dalam situasi seperti ini, seseorang mungkin berusaha untuk selalu tersenyum dan berpikir positif. Meskipun berpikir positif dapat menjadi cara untuk mengalihkan kesedihan, tanpa disadari hal tersebut justru dapat berubah menjadi kebiasaan berpura-pura bahagia. Padahal, memaksakan diri untuk tampak bahagia ketika batin tidak merasakannya dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan mental.

Kesehatan mental memiliki peran penting dalam kehidupan seseorang. Kondisi mental yang sehat akan membawa ketenangan batin, kebahagiaan, kemampuan berpikir logis dan rasional, serta jiwa yang sehat yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan fisik. Sebaliknya, individu yang mengalami gangguan kesehatan mental dapat menunjukkan perilaku yang tidak wajar, bertindak di luar kebiasaan, bahkan dalam kondisi yang lebih parah dapat kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih peka terhadap stres, termasuk stres kecil yang muncul di lingkungan sekitar. Stres ringan yang dialami secara terus-menerus setiap hari tidak boleh diabaikan. Jika dibiarkan, stres tersebut dapat menjadi seperti bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan berdampak buruk bagi kondisi psikologis seseorang.

Langkah awal untuk mengatasi stres adalah dengan mengenali dan menemukan pemicu stres itu sendiri. Setelah penyebabnya diketahui, seseorang dapat mulai mencari solusi terbaik untuk mengelola dan mengatasinya. Namun, sering kali individu yang mengalami tekanan berat justru memilih untuk menutupinya dengan berpura-pura bahagia.

Kondisi berpura-pura bahagia ini kerap muncul pada seseorang yang sedang menghadapi masalah besar, seperti mendapatkan teguran dari atasan, memperoleh nilai akademik yang buruk, kehilangan orang yang sangat disayangi, atau menghadapi persoalan hidup lainnya. Situasi tersebut dapat membuat seseorang sulit merasakan kebahagiaan, kehilangan energi, tidak bersemangat, serta menurunnya minat terhadap berbagai aktivitas.

Ironisnya, dalam kondisi seperti itu, banyak orang justru berusaha menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja dan bahagia. Di satu sisi, berpura-pura bahagia memang bisa menjadi solusi sementara untuk mencoba keluar dari permasalahan dan melupakan tekanan yang ada. Namun, jika kebiasaan ini dilakukan terus-menerus dengan membohongi diri sendiri dan memaksakan kebahagiaan yang tidak dirasakan, maka hal tersebut justru dapat menimbulkan tekanan mental yang lebih berat.

Terdapat beberapa dampak serius dari kebiasaan berpura-pura bahagia. Pertama, memendam emosi dapat menjadi bom waktu. Menahan dan menutupi perasaan sebenarnya dengan senyuman dan sikap ceria membuat emosi negatif terakumulasi. Penelitian menunjukkan bahwa memalsukan emosi justru dapat memperburuk kondisi emosional seseorang dari waktu ke waktu.

Kedua, munculnya kepercayaan terhadap kebahagiaan yang tidak realistis. Banyak orang beranggapan bahwa semakin sering seseorang tersenyum, maka semakin bahagia pula dirinya. Padahal, senyuman yang dipaksakan bukanlah cerminan kebahagiaan yang nyata, dan justru dapat menjadi bumerang bagi kesehatan mental individu tersebut.

Ketiga, berpura-pura bahagia dapat menghalangi orang lain untuk memberikan dukungan. Ketika seseorang terus meyakinkan dirinya dan orang lain bahwa ia baik-baik saja, lingkungan sekitar pun akan memperlakukannya seolah tidak ada masalah. Akibatnya, individu tersebut kehilangan kesempatan untuk mendapatkan bantuan dan dukungan emosional yang sebenarnya sangat dibutuhkan.

Meskipun berpura-pura bahagia mungkin terasa membantu dalam jangka pendek, efek jangka panjangnya dapat merusak kesehatan mental dan fisik. Individu yang terus-menerus memaksakan diri untuk tampak produktif dan puas sering kali merasa sendirian dan menjauhkan diri dari lingkungan sosialnya. Sikap ini bisa menjadi tanda bahwa seseorang sedang berusaha menyembunyikan luka batinnya.

Dalam kondisi tersebut, tidak jarang seseorang berbohong pada dirinya sendiri dengan bersikeras bahwa ia lebih baik sendirian. Selain itu, sudut pandang yang menganggap diri sendiri selalu benar, egois, atau terlalu mementingkan diri sendiri juga dapat memperburuk keadaan. Ego yang tidak dikendalikan akan membuat seseorang sulit mentolerir kesalahan orang lain dan menghambat proses pemulihan mental.

Mengurangi ego dan bersikap lebih terbuka terhadap diri sendiri maupun orang lain dapat membantu seseorang menjadi lebih bijak dalam menghadapi permasalahan hidup. Dengan mengakui emosi yang dirasakan dan berani mencari bantuan, individu dapat mencegah dampak buruk berpura-pura bahagia dan menjaga kesehatan mentalnya dengan lebih baik.

(Tetty B Pangemanan)

 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....