Badai Matahari Ancam Teknologi, BRIN Buat Model Prediksi
- 07 Okt 2026 09:07 WIB
- Manado
Poin Utama
- Badai matahari berpotensi mengganggu jaringan listrik, komunikasi radio, dan navigasi satelit.
- BRIN mengembangkan model prediksi aktivitas Matahari dengan memantau bintik matahari, ionosfer, dan medan magnet Bumi.
- Pakar ITB menegaskan isu "kiamat internet" tak perlu dipanikkan karena magnetosfer dan atmosfer Bumi mampu menahan radiasi berbahaya.
RRI.co.id, Manado - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan riset dinamika Matahari dan membangun model prediksi guna mengantisipasi dampak badai matahari terhadap infrastruktur teknologi di Bumi. Fenomena cuaca antariksa ekstrem ini diketahui dapat mengganggu jaringan listrik, komunikasi radio, hingga navigasi satelit.
Peneliti Pusat Riset Antariksa (PRA) BRIN, Clara Yono Yatini, menjelaskan bahwa prakiraan ledakan Matahari dilakukan dengan memantau daerah aktif, jumlah bintik Matahari, serta kelas magnetnya. Selain itu, kondisi ionosfer dan medan magnet bumi turut dipantau untuk mengukur seberapa besar dampaknya di wilayah Indonesia.
Edukasi ini disampaikan dalam acara daring bertajuk "100 Jam Astronomi untuk Semua". Acara yang juga memperingati World Space Week tersebut bertujuan mendekatkan pengetahuan sains keantariksaan kepada masyarakat luas.
Dalam kesempatan yang sama, Dosen Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), Dhani Herdiwijaya, menepis kekhawatiran publik terkait isu "kiamat internet" akibat aktivitas Matahari. Menurutnya, meskipun pelepasan energi Matahari dapat memengaruhi teknologi, kehidupan di Bumi tetap terlindungi oleh benteng alami berupa magnetosfer dan atmosfer.
Kepala PRA BRIN, Emanuel Sungging Mumpuni, berharap sosialisasi melalui pembahasan populer seperti ini dapat membuka wawasan masyarakat. Pembahasan ilmiah diharapkan dapat membantu publik memilah informasi berbasis sains dari sekadar rumor yang memicu keresahan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....