Cairan Cokelat di Teluk Rupert: Fenomena Air Unik di Kanada

  • 07 Okt 2026 09:07 WIB
  •  Manado
Poin Utama
  • Satelit Landsat 9 merekam fenomena unik air berwarna cokelat tua akibat tingginya kandungan bahan organik terlarut (dissolved organic matter) dan sedimen di Teluk Rupert serta Teluk Hannah, Kanada.
  • Suku Cree mengenali warna khas air ini dengan istilah pahtaaunaakun ("warna bulu berang-berang hangus"), yang berakar kuat dalam sejarah dan mitologi lokal.
  • Campuran air berwarna cokelat teh dari Sungai Moose, Nottaway, dan Harricanaw serta endapan lumpur dipengaruhi oleh karakteristik hutan boreal, lahan gambut, dan proses geologi pascagletser.

RRI.co.id, Manado - Citra satelit terbaru menangkap pemandangan alam memukau di kawasan utara Kanada. Air berwarna cokelat pekat tampak mengalir dan bercampur anggun dengan perairan biru tua di Teluk Rupert dan Teluk Hannah, perpanjangan paling selatan dari Teluk James.

Gambar yang direkam oleh instrumen Operational Land Imager (OLI) pada satelit Landsat 9 milik NASA ini memperlihatkan fenomena alam yang menarik. Warna cokelat unik tersebut terbentuk dari melimpahnya bahan organik terlarut berwarna (colored dissolved organic matter/CDOM) serta sedimen halus yang terbawa oleh arus sungai.

Saat melintasi hutan boreal dan lahan gambut di utara Quebec dan Ontario, aliran sungai menyerap tanin serta lignin dari pelapukan daun, akar, pepohonan, dan tanah. Zat-zat organik ini menyerap spektrum cahaya biru dan ultraviolet, sehingga mengubah warna air menjadi cokelat pekat—mirip seperti seduhan teh hangat.

Tiga sungai utama—Sungai Moose, Nottaway, dan Harricanaw—membawa aliran air berwarna teh ini melintasi dataran lumpur dangkal di sepanjang pesisir. Pengikisan sedimen akibat sapuan pasang surut air laut kemudian membentuk semburat cokelat muda yang berpadu halus dengan perairan biru Teluk James.

Pemandangan ini bukan sekadar cerita sains tentang ekosistem, melainkan juga menyimpan kisah budaya yang mendalam. Suku Cree, yang telah mendiami wilayah tersebut selama ribuan tahun, menyebut nuansa warna cokelat khas ini dengan istilah pahtaaunaakun, yang berarti "warna bulu berang-berang yang hangus."

Mamalia pembuat bendungan ini memang memegang peranan penting dalam mitologi dan sejarah masyarakat setempat. Salah satu cerita rakyat Suku Cree menceritakan kisah sesosok raksasa yang mengejar berang-berang raksasa hingga ke Teluk Rupert. Sang raksasa melemparkan batu besar ke arah berang-berang tersebut, tetapi lemaparan itu meleset dan batu tersebut diyakini menjelma menjadi Pulau Stag Rock yang berdiri di muara sungai hingga hari ini.

Daya tarik berang-berang di sepanjang Teluk Rupert juga sempat memikat para pedagang Eropa sejak dekade 1660-an. Kehadiran mereka memicu berdirinya pos-pos perdagangan hingga terbentuknya Hudson's Bay Company untuk mengelola bisnis bulu hewan. Bahkan pada dekade 1830-an, Pulau Charlton sempat dijadikan area konservasi khusus untuk membiakkan berang-berang bersama masyarakat lokal.

Jika dilihat dari atas, lanskap di sekitar teluk menyajikan pola garis-garis hijau yang menyerupai pembuluh darah (dendritic). Nuansa hijau gelap menandakan kerapatan hutan yang lebat di sepanjang tepi sungai, sementara warna hijau muda menggambarkan kawasan lahan gambut dengan pepohonan yang lebih renggang.

Hingga kini, proses percampuran air dan pembentukan daratan di Teluk Rupert terus berlangsung secara alami. Didorong oleh endapan sedimen sungai serta pengangkatan daratan pascagletser (postglacial rebound), kawasan ini terus merajut ekosistem yang unik dan memesona di utara Kanada.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....