Ilmuwan Temukan Paus Sperma Ubah Cara 'Bicara' saat Dekat Kapal

  • 25 Jul 2026 12:43 WIB
  •  Manado
Poin Utama
  • Paus sperma terbukti mengubah tempo dan jenis bunyi klik ("koda") mereka menjadi lebih cepat ketika mendeteksi kebisingan dari lalu lintas kapal.
  • Peneliti dari Project Ceti menemukan bahwa mamalia laut ini lebih sering menggunakan suara mirip vokal "aaaa" ketimbang "iiii" saat berada di dekat kapal.
  • Perubahan pola vokal ini sangat konsisten, sehingga ilmuwan kini bisa memprediksi kehadiran kapal hanya dengan mendengarkan rekaman suara paus.

RRI.co.id, Manado - Para ilmuwan dari Project Ceti (Cetacean Translation Initiative) menemukan fenomena unik pada mamalia laut terbesar di dunia. Berdasarkan penelitian terbaru selama empat tahun di perairan pulau Karibia, Dominica, paus sperma diketahui mengubah pola suara mirip "huruf vokal" mereka secara signifikan saat mendengarkan kebisingan kapal laut.

Penelitian yang melibatkan pengamatan terhadap 15 ekor paus sperma ini dipublikasikan dalam jurnal Ecological Informatics. Hasilnya menunjukkan bahwa gangguan suara dari aktivitas manusia di laut dapat memengaruhi cara mamalia ini berkomunikasi secara mendalam.

Dalam kondisi normal, paus sperma berkomunikasi menggunakan rangkaian bunyi klik pendek yang disebut "koda". Sebagai contoh, seekor paus bernama "Atwood" biasanya mengeluarkan pola koda 1-1-3 (dua klik diikuti tiga klik cepat). Pola ini merupakan ciri khas klan paus sperma di wilayah Karibia tersebut.

Namun, saat kebisingan kapal mulai mendekat, Atwood dan kelompoknya tetap menggunakan ritme yang sama tetapi menembakkannya dengan tempo yang jauh lebih cepat. Jeda antarklik menyusut drastis.

"Asosiasinya sangat kuat. Secara umum, hanya dari vokalisasi mereka saja, kami sekarang bisa memprediksi apakah ada kapal di sekitar mereka," ujar Gašper Beguš, pimpinan tim linguistik di Project Ceti.

Tidak hanya mengubah kecepatan, paus-paus ini juga mengubah struktur suara mereka. Pada penelitian sebelumnya, Project Ceti menemukan bahwa jika rangkaian klik paus dipercepat, suaranya akan menyatu dan membentuk unit suara kontinu yang mirip dengan huruf vokal manusia, yaitu "aaaa" dan "iiii".

Dalam kondisi bising akibat lalu lintas laut, para peneliti mendapati bahwa penggunaan variasi vokal "aaaa" menjadi jauh lebih dominan.

Penelitian ini menggunakan teknologi mutakhir yang minim invasif. Tim ilmuwan menggunakan pesawat nirawak (drone) untuk menempelkan sensor audio ke tubuh paus. Data suara tersebut kemudian diverifikasi dengan data geolokasi digital kapal guna memastikan keakuratan posisi kapal saat paus mengubah suaranya.

"Penelitian ini memicu pertanyaan besar: apakah paus-paus ini sedang membicarakan kapal tersebut, atau kah suara kapal mengubah pita suara mereka?" kata David Gruber, pendiri dan CEO Project Ceti.

Meskipun begitu, penggunaan istilah "vokal" dan "bahasa" pada hewan sempat menuai kritik dari sebagian kalangan ilmuwan lain yang menilai analogi tersebut terlalu berlebihan. Menanggapi hal itu, tim Project Ceti tetap berhati-hati dengan menggunakan istilah "mirip vokal" (vowel-like) dalam laporan ilmiah mereka.

Nathan Merchant, spesialis kebisingan bawah laut dari lembaga riset pemerintah Inggris (Cefas) yang tidak terlibat dalam studi ini, memberikan apresiasi. Menurutnya, riset ini memberikan dimensi baru mengenai dampak polusi suara terhadap ekosistem laut.

"Studi ini menunjukkan perubahan pada konten skala halus dari panggilan tersebut. Ini menambah dimensi nuansa baru tentang bagaimana kebisingan bawah laut memengaruhi cetacea," ungkap Merchant.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....