Sibuk dengan Gawai, Waspadai Dampak Digital Burnout
- 20 Jun 2026 22:05 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Kemajuan teknologi informasi telah membawa banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di balik manfaat tersebut, muncul tantangan baru berupa kelelahan digital atau digital burnout yang kini menjadi perhatian dunia kesehatan. Kondisi ini terjadi ketika seseorang terus-menerus terhubung dengan perangkat digital tanpa jeda yang cukup, sehingga memicu stres, kecemasan, dan gangguan kesehatan lainnya.
Mengutip informasi dari kemkes.go.id Indonesia gaya hidup Slow Living atau Slo-Mo (Slow Movement) serta praktik Digital Detox dinilai bermanfaat untuk membantu memulihkan keseimbangan dopamin di otak, menurunkan tingkat stres dan kecemasan akibat kelelahan digital, serta meningkatkan kesehatan mental, fisik, dan sosial.
Gaya hidup Slo-Mo menekankan pentingnya kualitas dibandingkan kecepatan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Konsep ini bukan berarti bermalas-malasan, melainkan melakukan berbagai kegiatan secara lebih sadar dan penuh perhatian (mindful). Pola hidup yang serba cepat dapat memicu produksi hormon kortisol secara berlebihan. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut berisiko menyebabkan stres kronis, gangguan tidur, hingga penyakit kardiovaskular.
Dengan mengambil jeda dari rutinitas yang padat, tubuh memiliki kesempatan untuk mengaktifkan sistem saraf parasimpatik yang berperan dalam proses relaksasi. Dampaknya, detak jantung menjadi lebih stabil, pikiran lebih tenang, dan tubuh dapat beristirahat secara optimal.
Sementara itu, Digital Detox menjadi salah satu langkah yang semakin banyak diterapkan masyarakat untuk mengurangi dampak negatif penggunaan teknologi. Paparan cahaya biru (blue light) dari layar gawai serta derasnya arus informasi di media sosial diketahui dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh dan menurunkan kemampuan fokus.
Melakukan detoks digital, bahkan hanya beberapa jam dalam sehari, dinilai mampu membantu memulihkan keseimbangan dopamin sehingga seseorang dapat kembali menikmati aktivitas sederhana di dunia nyata tanpa bergantung pada validasi dari media sosial.
Fenomena ini menjadi semakin relevan mengingat media sosial kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Mulai dari berkomunikasi dengan keluarga dan teman, mencari informasi, hingga mengikuti tren yang sedang viral, hampir seluruh aktivitas dilakukan melalui platform digital.
Namun, tidak sedikit orang yang mengaku merasa cemas, stres, atau lelah setelah menghabiskan waktu berjam-jam berselancar di media sosial. Meski demikian, banyak di antaranya tetap kesulitan untuk menghentikan kebiasaan tersebut. Kondisi ini dapat menjadi salah satu tanda bahwa seseorang perlu melakukan detoks media sosial.
Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, gaya hidup Slow Living dan Digital Detox diperkirakan akan terus menjadi tren positif di tahun 2026 sebagai upaya menjaga kualitas hidup di tengah derasnya arus teknologi digital.
(Sumber:kemkes.go.id)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....