Rahasia Sungai Purba Paparan Sunda, Jalur Migrasi Manusia Nusantara

  • 31 Mei 2026 00:02 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap temuan menarik terkait sejarah peradaban prasejarah di Nusantara. Jaringan sungai purba di kawasan Paparan Sunda diduga kuat menjadi jalur mobilitas utama bagi manusia modern awal saat bermigrasi ke wilayah Asia Tenggara.

Fakta tersebut dibahas dalam Webinar Forum Kebhinekaan Seri #36 bertema “Dinamika Migrasi Manusia dan Budaya Prasejarah” yang digelar pada Selasa, 26 Mei 2026.

Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PR APS) BRIN, Vida Pervaya Rusianti Kusmartono, menjelaskan bahwa penelitian geomorfologi dan paleogeografi menunjukkan adanya sistem sungai besar di Paparan Sunda pada masa Pleistosen. Sistem sungai raksasa tersebut saat ini telah tenggelam akibat kenaikan muka air laut.

Jaringan sungai purba ini diperkirakan berfungsi sebagai koridor ekologis yang menyokong persebaran manusia prasejarah, baik menuju wilayah pedalaman maupun ke kawasan Wallacea. Menurut Vida, mobilitas manusia purba kala itu tidak sekadar menyusuri garis pantai lewat coastal migration theory, melainkan juga memanfaatkan jalur sungai pedalaman untuk berpindah tempat.

Ketika masa glasial terjadi, permukaan air laut menurun drastis dan membentuk daratan luas yang menyatukan berbagai wilayah di Asia Tenggara. Kondisi geografis inilah yang mempermudah pergerakan manusia, flora, dan fauna di bawah Paparan Sunda. Bagian timur kawasan ini memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi jembatan penghubung menuju wilayah Sahul (Australia-Papua) dan Wallacea.

Meski teori ini didukung oleh temuan alat batu, sisa fauna, dan bukti hunian gua di Kalimantan dari kurun waktu 45.000 hingga 30.000 tahun lalu, penelitian migrasi manusia awal di Asia Tenggara masih menghadapi kendala besar. Iklim tropis yang basah membuat fosil dan sisa-sisa organik sangat sulit terawetkan secara alami.

Tingkat keasaman tanah yang tinggi di wilayah tropis mempercepat kerusakan tulang serta kolagen. Akibatnya, para peneliti sering kali kesulitan melakukan proses penanggalan absolut secara akurat. Guna mengatasi tantangan ini, BRIN terus menggalakkan riset lanjutan lewat metode modern seperti survei geofisika dan analisis sedimen.

Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) BRIN, Herry Yogaswara, menegaskan bahwa pemahaman mengenai dinamika awal peradaban Nusantara merupakan hal yang krusial. Sebagai bentuk komitmen nyata, BRIN kini resmi membentuk lembaga kajian khusus bernama Center for Human Evolution, Adaptation, and Dispersal in Southeast Asia (CHEADSEA) yang saat ini telah mendapatkan perhatian resmi dari badan dunia UNESCO.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....