AI, Memori, dan Harga Mahal

  • 03 Jan 2026 14:45 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Ledakan AI kini tidak lagi terasa abstrak. Dampaknya masuk ke kantong dan meja kerja. Dunia teknologi sedang menghadapi tekanan serius akibat lonjakan kebutuhan AI terhadap sumber daya komputasi. Isunya bukan cuma etika, privasi, atau iklim. Ada krisis fisik yang lebih senyap, kelangkaan chip memori.

Dikutip dari paparan publik Micron Technology dan SK hynix dalam forum industri semikonduktor global, permintaan memori untuk pusat data AI melonjak tajam sejak 2023. Fokus produksi bergeser ke high bandwidth memory. Pasokan untuk konsumen otomatis tertekan.

Efeknya merambat ke perangkat sehari hari. Smartphone, laptop, PC, hingga konsol gim ikut terdampak. Biaya produksi RAM naik. Produsen terpaksa memilih. Menahan harga atau memangkas spesifikasi. Hasilnya terlihat jelas. Konfigurasi 16GB mulai bergeser ke segmen premium. Varian 8GB menjadi standar baru arus utama. Dikutip dari pernyataan eksekutif Samsung Electronics dalam laporan investor, kapasitas memori besar kini diprioritaskan untuk server AI karena margin lebih tinggi dan kontrak jangka panjang lebih stabil. Konsumen menjadi pihak yang menyesuaikan.

Segmen entry level terkena paling keras. Perangkat yang sebelumnya menawarkan RAM 8GB kini kembali ke 4GB. Bukan karena kemunduran teknologi, tapi kompromi ekonomi. Ini menciptakan paradoks. Aplikasi semakin berat. Sistem operasi makin rakus memori. Perangkat justru dipangkas. Dikutip dari dokumentasi teknis Google Android, kebutuhan memori minimum untuk pengalaman optimal terus naik. Realitas pasar bergerak ke arah sebaliknya. Pengguna dipaksa menerima performa lebih sempit dengan harga yang tidak jauh berbeda.

Akar masalahnya ada pada strategi industri AI itu sendiri. Model besar membutuhkan memori besar. Training skala raksasa menyerap HBM dan DRAM dalam jumlah masif. Ironisnya, banyak perusahaan AI belum menghasilkan laba. Dalam wawancara publik yang dikutip dari pernyataan Sam Altman di forum pengembang OpenAI, ia mengakui perusahaan siap merugi bertahun tahun demi skala dan dominasi. Pertanyaannya jadi lebih tajam. Jika biaya sosial dan material terus naik, siapa yang akhirnya menanggungnya. Konsumen, lingkungan, atau industri itu sendiri. AI mungkin masa depan. Tapi fondasinya hari ini dibangun di atas memori yang semakin mahal dan langka.

(Sultan Jody Akbar)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....