BRIN Perkuat Tata Kelola Koleksi Ilmiah Hayati Nasional
- 31 Des 2025 20:43 WIB
- Manado
KBRN, Manado: Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menegaskan bahwa koleksi ilmiah hayati bukan sekadar arsip spesimen, melainkan fondasi penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi berbasis keanekaragaman hayati di Indonesia.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam Seminar Nasional Manajemen Koleksi Ilmiah Hayati yang digelar di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, Jawa Barat, pada 22 hingga 23 Desember 2025.
Direktur Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN, Sasa Sofyan Munawar, mengatakan koleksi ilmiah merupakan aset strategis bangsa yang harus dikelola secara profesional, terarah, dan berstandar ilmiah.
Ia menjelaskan, terbitnya Peraturan BRIN Nomor 8 Tahun 2024 tentang Tata Kelola Koleksi Ilmiah memberikan kepastian regulasi dalam setiap tahapan pengelolaan koleksi, mulai dari penerimaan spesimen, verifikasi, penyimpanan, digitalisasi, hingga pemanfaatannya.
Menurut Sasa, koleksi ilmiah hayati seperti herbarium, xylarium, kultur mikroorganisme, bank biji, hingga tumbuhan hidup di kebun raya merupakan sumber data primer yang tidak tergantikan bagi para periset. Setiap spesimen menyimpan informasi penting, mulai dari aspek taksonomi, genetik, hingga potensi pemanfaatan di masa depan.
BRIN juga menilai regulasi ini memberikan kepastian hukum bagi periset, termasuk dalam integrasi spesimen hasil riset ke dalam sistem koleksi ilmiah nasional. Langkah ini dinilai dapat memperkuat keterulangan riset serta membuka peluang kolaborasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Selain diskusi, para peserta seminar juga melakukan kunjungan langsung ke fasilitas koleksi ilmiah BRIN, seperti koleksi mikroorganisme, bank biji, herbarium, xylarium, hingga koleksi hewan. Kunjungan ini menunjukkan penerapan standar pengelolaan koleksi berbasis teknologi digital.
Melalui forum ini, BRIN juga membuka peluang pembentukan konsorsium pengelola koleksi ilmiah nasional untuk menyatukan standar, memperkuat koordinasi antar lembaga, serta mendorong pertukaran data dan pengetahuan secara berkelanjutan.
(Fika Hamzah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....