BRIN Kembangkan Teknologi Nuklir Deteksi Mikroplastik Laut

  • 03 Des 2025 21:53 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) memaparkan kemajuan Indonesia dalam pemanfaatan teknologi nuklir untuk penanganan polusi plastik pada ajang International High-Level Forum on Nuclear Technology for Controlling Plastic Pollution (NUTEC Plastics). Forum yang diselenggarakan International Atomic Energy Agency (IAEA) pada 25–26 November 2025 di Manila, Filipina, menyoroti dua pendekatan utama: daur ulang plastik berbasis radiasi dan pemantauan mikroplastik laut menggunakan teknik analisis nuklir.

Kepala ORTN BRIN, Syaiful Bakhri, menegaskan kesiapan Indonesia menghadirkan inovasi berbasis sains untuk solusi lingkungan berkelanjutan.

“Sebagai salah satu negara percontohan, Indonesia berkomitmen menghadirkan inovasi yang nyata dan berdampak. Kemajuan dari riset hingga demonstrasi teknologi menegaskan kesiapan Indonesia mendukung upaya global mengurangi polusi plastik melalui teknologi nuklir,” ujarnya, Rabu (03/12).

Forum NUTEC Plastics yang dibuka Presiden Filipina, Presiden Asian Development Bank (ADB), dan Direktur Jenderal IAEA, menekankan pentingnya inovasi nuklir dalam mendukung ekonomi sirkular. Indonesia, sebagai pilot country, mempresentasikan capaian konkret dalam pengembangan teknologi radiasi untuk daur ulang plastik.

Di bawah koordinasi BRIN, Indonesia berhasil mengembangkan compatibilizer dari sampah plastik daur ulang untuk aplikasi Wood-Plastic Composite (WPC). Teknologi ini telah melewati tahap riset, pembuktian konsep, dan kini mencapai Technology Readiness Level (TRL) 5. Selain riset teknologi, Indonesia juga berperan dalam peningkatan kapasitas regional melalui berbagi pengalaman teknis dan mendukung negara-negara lain dalam implementasi teknologi nuklir ramah lingkungan.

Syaiful menjelaskan bahwa polusi plastik merupakan tantangan global serius dengan jutaan ton sampah mencemari perairan setiap tahun. Melalui NUTEC Plastics, IAEA mendorong dua pendekatan strategis:

  1. Daur ulang plastik berbasis radiasi, yang memungkinkan limbah plastik menjadi material industri bernilai tambah.

  2. Pemantauan mikroplastik di laut, menggunakan teknik analisis nuklir untuk memetakan persebaran mikroplastik secara akurat.

Saat ini, program NUTEC Plastics bekerja sama dengan 53 negara untuk daur ulang plastik, dan 102 negara dalam program pemantauan mikroplastik laut. Indonesia bersama Argentina, Malaysia, dan Filipina menjadi negara terdepan dalam demonstrasi teknologi menuju skala industri percontohan.

“IAEA menyediakan perangkat analitis untuk menilai sirkularitas plastik, tingkat kematangan teknologi, serta kelayakan ekonomi penerapan sistem berkas elektron dalam proses daur ulang,” jelasnya.

Indonesia juga terlibat aktif dalam pembangunan basis data mikroplastik global melalui program IAEA RAS7038. Sejak 2024, Indonesia telah melakukan sampling di Teluk Lampung, Muara Cisadane, Pulau Pari, dan Pekalongan.

“Data dari Lampung telah dianalisis dengan ATR-FTIR dan diunggah ke database IAEA. Kolaborasi ini juga didukung pelatihan peneliti dan bantuan peralatan dari IAEA, termasuk alat ATR-FTIR tambahan yang sedang dalam proses impor,” ungkapnya.

Meski menghadapi kendala seperti biaya sampling yang tinggi dan kompleksitas analisis, BRIN memastikan program ini akan berlanjut ke Fase II (2026–2029). Fase ini mengintegrasikan teknik sediment dating menggunakan isotop Pb-210, yang memungkinkan rekonstruksi sejarah pencemaran mikroplastik hingga 150 tahun terakhir.

“Partisipasi BRIN dalam forum ini menegaskan peran aktif Indonesia dalam memanfaatkan teknologi nuklir untuk pengelolaan lingkungan berkelanjutan dan kontribusi nyata terhadap upaya global mengurangi polusi plastik,” pungkas Syaiful.

(Fika Hamzah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....