BRIN Peringatkan Kerusakan Benteng Alami Penahan Tsunami
- 28 Nov 2025 11:11 WIB
- Manado
KBRN, Manado: Di sepanjang pesisir selatan Jawa, dari Kebumen hingga Purworejo, terbentang benteng alami berupa punggungan pasir yang telah terbentuk sejak ribuan tahun lalu. Struktur geologi ini bukan sekadar tumpukan pasir, tetapi dinding pelindung yang berfungsi meredam terjangan tsunami sebelum mencapai permukiman warga.
Namun, benteng alami yang menjadi penopang keselamatan masyarakat tersebut kini terancam. Penambangan pasir yang semakin meluas membuat struktur punggungan pasir perlahan terkikis.
Dalam wawancara awal November, Periset Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Eko Yulianto, menegaskan pentingnya fungsi punggungan pasir bagi masyarakat pesisir. “Benteng alam ini terbentuk lewat proses geologi ribuan tahun, dan fungsinya sangat penting bagi keselamatan warga pesisir. Jika punggungan pasir ini rusak, kita kehilangan perlindungan paling dasar dari tsunami,” jelasnya.
Riset BRIN yang merupakan bagian dari program pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) BRIN 2025 mengungkap bahwa punggungan pasir tersebut terbentuk sekitar enam ribu tahun lalu, pada masa ketika permukaan laut berada 3–5 meter lebih tinggi dari kondisi saat ini. Formasi geologi tersebut dikenal sebagai Teras Laut Holosen Maksimum (TLHM).
Punggungan pasir yang membentang sekitar 40 km ini memiliki ketinggian rata-rata 6–13 meter, berada pada jarak 400–500 meter dari garis pantai di wilayah Kebumen hingga Purworejo, dan semakin menjauh hingga 8 km di kawasan Cilacap. Variasi ketinggian dan jarak dari laut itulah yang memengaruhi tingkat kerentanan tsunami di tiap wilayah.
Permukiman di Kebumen dan Purworejo relatif lebih aman karena berada di atas punggungan dengan ketinggian lebih dari 9 meter. Sebaliknya, dataran rendah di Cilacap—yang hanya berada pada ketinggian 0–4 meter—lebih rentan terhadap tsunami berskala besar. “Secara morfologi, Cilacap jauh lebih rawan dibanding Kebumen karena datarannya lebih rendah dan lebih dekat ke laut,” ujar Eko.
Kajian kebumian menunjukkan zona megathrust di selatan Jawa–Nusa Tenggara berpotensi menghasilkan gempa besar hingga magnitudo 9,6 dengan siklus sekitar 675 tahun. Gempa berskala demikian dapat memicu tsunami besar yang mampu menyapu daratan hingga beberapa kilometer. Dalam kondisi seperti itu, keberadaan punggungan pasir menjadi faktor yang sangat krusial dalam mengurangi energi gelombang sebelum mencapai kawasan permukiman.
Ironisnya, benteng alami yang terbentuk tanpa biaya tersebut justru terancam hilang akibat aktivitas penambangan pasir. Jika Indonesia harus menggantinya dengan tembok laut buatan, biayanya diperkirakan mencapai 14 triliun rupiah, setara 14 kali anggaran BNPB 2025. Jepang sendiri menghabiskan sekitar 138 triliun rupiah untuk membangun tembok laut setinggi 12–15 meter sepanjang hampir 400 kilometer pascatsunami 2011.
“Menghancurkan punggungan pasir sama saja dengan melepas pelindung terakhir masyarakat dari ancaman tsunami. Ini bukan hanya masalah geologi, tapi soal kemanusiaan,” tegas Eko.
Benteng pasir di selatan Jawa adalah wujud nyata bagaimana alam melindungi manusia. Namun, formasi yang terbentuk selama ribuan tahun itu dapat lenyap dalam hitungan dekade jika tidak dijaga. Menyelamatkan punggungan pasir bukan hanya terkait pelestarian lingkungan, melainkan juga upaya memastikan keselamatan generasi mendatang.(Fika Hamzah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....