Degradasi Habitat Ancam Populasi Hiu dan Pari Indonesia

  • 17 Nov 2025 15:40 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Populasi hiu dan pari di perairan Indonesia terus mengalami penurunan yang mengkhawatirkan. Kondisi tersebut serupa dengan tren global, dipengaruhi oleh penangkapan berlebih, perubahan lingkungan, kerusakan habitat, hingga tingginya nilai ekonomi kedua jenis ikan bertulang rawan itu.

Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Andhika Prima Prasetyo, menjelaskan bahwa hiu, pari, skate, dan chimera termasuk kelompok ikan bertulang rawan atau Chondrichthyes. Ia mengungkapkan fakta menarik bahwa sirip termahal justru berasal dari pari, khususnya pari kikir dan pari kekeh.

Perbedaan paling menonjol antara pari dan skate terletak pada sistem reproduksi, di mana pari melahirkan sementara skate bertelur. Sementara itu, chimera atau hiu hantu jarang terlihat karena hidup di kedalaman.

Menurut Andhika, ancaman terbesar bagi populasi hiu dan pari adalah penangkapan berlebih di wilayah tropis, di mana keanekaragaman hayati tinggi namun populasinya relatif rendah. Status kerentanan kedua spesies secara global terus meningkat, bahkan satu spesies—pari Jawa—telah dinyatakan punah dan berasal dari Indonesia.

Pemanfaatan hiu dan pari di Indonesia sangat beragam, mulai dari konsumsi rumah tangga hingga keperluan akuarium dan pengobatan tradisional. Produk yang dihasilkan pun hampir seluruh bagian tubuh dimanfaatkan, mulai dari sirip, daging, tulang, hingga isi perut atau konsep “zero waste”.

Indonesia tercatat sebagai negara dengan perdagangan hiu dan pari terbesar di dunia, disusul Spanyol dan India. Tren penangkapan menunjukkan fluktuasi: penangkapan hiu menurun sejak tahun 2000, sementara penangkapan pari justru meningkat. Produk ekspor utama meliputi sirip ke Hong Kong dan daging pari ke Malaysia.

Untuk menghadapi ancaman tersebut, pemerintah bersama masyarakat telah mengembangkan kawasan konservasi, penguatan regulasi perdagangan, serta peningkatan penyadartahuan. Namun, pengawasan perdagangan menghadapi tantangan besar mulai dari variasi produk, volume tinggi, hingga kesulitan identifikasi spesies.

Andhika menekankan pentingnya pendekatan genetik untuk memperkuat konservasi melalui identifikasi spesies, ketertelusuran geografis, serta mendukung penegakan hukum. Meski begitu, tantangan biaya reagent, terbatasnya mesin sekuensing, dan kondisi iklim tropis masih menjadi hambatan dalam pengembangan teknologi.

Teknologi molekuler seperti barcoding, mini barcoding, PCR-RFLP, real-time PCR, LAMP genetic, hingga DNA metabarcoding kini berkembang pesat dan dapat mendukung sistem ketertelusuran perdagangan, termasuk teknik “Shark-dust”.

Kepala PRZT BRIN, Delicia Yulita Rachman, berharap peningkatan kapasitas identifikasi spesies dapat memperkuat penegakan hukum terhadap eksploitasi berlebih satwa liar laut. Ia menegaskan bahwa perlindungan genetik dan konservasi merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya hayati Indonesia.

(Fika Hamzah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....