BRIN Perkuat Riset Genetik Kambing Lokal Indonesia Timur
- 17 Nov 2025 15:30 WIB
- Manado
KBRN, Manado: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat penelitian terkait keanekaragaman genetik kambing lokal di kawasan Timur Indonesia. Upaya ini dilakukan untuk merespons menurunnya populasi ternak lokal akibat penggunaan ras unggul eksotis yang makin meluas dalam beberapa dekade terakhir. Tekanan persilangan dan minimnya konservasi dinilai berpotensi menghilangkan kekayaan plasma nutfah yang telah terbentuk melalui seleksi alami dan praktik budi daya masyarakat.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menegaskan pentingnya riset mendalam berbasis molekuler untuk mengungkap karakter genetik kambing lokal seperti Marica, Lakor, dan Kisar. Ia menyebut sumber daya genetik ternak lokal tidak hanya bernilai ilmiah, tetapi juga strategis secara ekonomi dan sosial budaya karena menjadi sumber protein hewani sekaligus aset ekonomi masyarakat.
Puji menyampaikan bahwa erosi genetik dapat terjadi bila tekanan persilangan tidak diimbangi konservasi. Kehilangan keragaman genetik, menurutnya, berarti kehilangan potensi adaptasi ternak terhadap perubahan lingkungan dan penyakit. Riset berbasis marka molekuler disebut menjadi langkah strategis untuk memahami hubungan genetik, asal-usul domestikasi, serta potensi populasi kambing lokal di wilayah timur.
Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, juga menekankan bahwa plasma nutfah kambing lokal memiliki potensi genetis besar, namun terancam oleh persilangan tidak terkontrol dan kurangnya upaya konservasi. Ia menyebut riset dan inovasi sebagai kunci untuk memahami dan melindungi kekayaan genetik tersebut bagi ketahanan pangan masa depan.
Peneliti Ahli Madya BRIN, Procula Rudlof Matitaputty, memaparkan hasil penelitian terkait kambing Lakor dari Maluku Barat Daya. Kambing ini memiliki produktivitas tinggi, adaptasi kuat pada lingkungan kering, pertumbuhan cepat, serta pola warna beragam. Analisis genetik menunjukkan kambing Lakor termasuk kelompok monofiletik dengan satu garis maternal yang sama, menandakan kemurnian genetik yang kuat. Namun sejumlah kendala masih ditemui, termasuk keterbatasan layanan kesehatan hewan, manajemen reproduksi, pemasaran hewan produktif, serta akses obat dan teknologi peternakan.
Rudlof menegaskan bahwa teknologi genome sequencing kini semakin penting untuk mengungkap keragaman genetik secara presisi dan mendukung konservasi plasma nutfah. Ia menambahkan bahwa kearifan lokal masyarakat turut berperan besar dalam menjaga keberlanjutan populasi kambing Lakor.
Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Pemuliaan Ternak dari Universitas Hasanuddin, M. Ihsan Andi Dagong, memaparkan hasil kajian genetik kambing lokal berdasarkan marka SRY dan mtDNA. Ia menyebut kambing telah didomestikasi sekitar 10.000 tahun lalu dan kini tersebar di seluruh dunia. Berdasarkan analisis genetika maternal, haplogroup B mendominasi populasi kambing lokal Indonesia Timur. Sementara itu, dari marka paternal SRY ditemukan tiga haplotype, dengan Y1AA sebagai yang paling dominan.
BRIN berharap riset berkelanjutan dan kolaborasi lintas lembaga semakin menguat untuk menjaga kekayaan genetik ternak lokal sebagai fondasi ketahanan pangan nasional di masa mendatang.
(Fika Hamzah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....