BRIN Kembangkan Material Energi Hijau untuk Produksi Hidrogen
- 13 Nov 2025 15:56 WIB
- Manado
KBRN, Manado: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan dua material energi masa depan, yakni phase change material (PCM) untuk penyimpanan panas dan solid oxide cell (SOC) untuk konversi energi bersih dalam produksi hidrogen ramah lingkungan.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Material Energi BRIN, Anggito Pringgo Tetuko, menjelaskan PCM berfungsi menjaga kestabilan suhu pada sistem sel bahan bakar dan baterai litium agar tidak mengalami panas berlebih. “PCM kini banyak dimanfaatkan sebagai media pengatur suhu (thermal management medium),” ujarnya dalam forum ORNAMAT ke-75 di Serpong, Selasa (11/11).
Material ini juga digunakan untuk menyimpan energi panas pada beton atau dinding bangunan, sehingga membantu efisiensi energi pendingin dan pemanas. Namun, tantangan utama PCM adalah konduktivitas termal yang rendah. “Kami menambahkan nanopartikel magnetik Fe₃O₄ untuk meningkatkan hantaran panas tanpa mengurangi kapasitas panas laten,” tambahnya.
Riset ini didukung oleh Pemerintah Australia, LPDP, dan NEDO Jepang, serta menggandeng universitas dari Australia, Tiongkok, Korea, Vietnam, dan Indonesia.
Sementara itu, Peneliti Ahli Muda BRIN Riyan Achmad Budiman memaparkan, teknologi SOC memiliki dua sistem utama: solid oxide fuel cell (SOFC) yang menghasilkan listrik dari reaksi hidrogen dan oksigen, serta solid oxide electrolysis cell (SOEC) yang mengubah uap air menjadi hidrogen.
“Teknologi SOFC telah dikomersialisasikan di Jepang lebih dari satu dekade melalui konsorsium industri ENE-FARM Type S, dengan kapasitas hingga 5 kilowatt untuk kebutuhan rumah tangga dan komersial,” jelasnya.
Saat ini, pengembangan SOEC difokuskan pada skala industri besar. Perusahaan seperti Topsoe (Denmark) tengah membangun pabrik SOC berskala Eropa dengan efisiensi 20–30 persen lebih tinggi dibandingkan teknologi elektrolisis suhu rendah.
Riyan menambahkan, riset terbaru BRIN juga mengeksplorasi co-electrolysis SOEC, yang menggabungkan uap air dan karbon dioksida untuk menghasilkan bahan bakar sintetis cair ramah lingkungan. “Pendekatan ini memungkinkan daur ulang karbon dioksida sekaligus meningkatkan efisiensi konversi energi,” ujarnya.
Penelitian BRIN menargetkan peningkatan durabilitas dan stabilitas SOC agar dapat beroperasi lebih dari sepuluh tahun dengan degradasi performa di bawah 15 persen. Upaya ini menjadi bagian dari kontribusi BRIN dalam mempercepat transisi menuju energi bersih dan mendukung target net-zero emission Indonesia.
(Fika Hamzah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....