ATHUS, Inovasi BRIN Libatkan Masyarakat Pantau Curah Hujan

  • 30 Okt 2025 12:40 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Di antara deretan alat berteknologi tinggi yang dipamerkan dalam InaRI Expo BRIN 2025, satu alat sederhana berbentuk pipa transparan justru menarik perhatian banyak pengunjung. Anak-anak, pelajar, hingga pegiat lingkungan berhenti sejenak, penasaran dengan tulisan di labelnya: ATHUS, Alat Takar Hujan Sederhana.

Di balik alat yang tampak sederhana itu, tersimpan gagasan besar: menjadikan masyarakat bagian dari sains iklim dan pemantauan lingkungan. Gagasan tersebut lahir dari Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Hunggul Yudono Setio Hadi Nugroho.

“Sains seharusnya bisa disentuh dan dipahami semua orang. Dengan ATHUS, kami ingin mengajak masyarakat ikut mengamati alamnya sendiri,” ujar Hunggul ketika ditemui di sela pameran Indonesia Research and Innovation Expo (InaRI Expo 2025), Selasa (28/10).

ATHUS dirancang sebagai alat ukur curah hujan berbiaya rendah, mudah dibuat, dan mudah diperbaiki. Komponennya sederhana: pipa transparan dengan skala pengukur di bagian luar, yang berfungsi menampung dan mengukur air hujan. Namun, di balik kesederhanaan itu terdapat konsep besar, yaitu citizen science — sains yang melibatkan warga sebagai pengumpul dan pengelola data.

“Dengan ATHUS, masyarakat bisa mencatat sendiri curah hujan di lingkungannya. Data ini sangat berharga untuk memahami pola hujan lokal dan membantu mitigasi bencana,” jelas Hunggul.

ATHUS bukan sekadar alat ukur, tetapi juga sarana literasi kebencanaan dan lingkungan di sekolah maupun komunitas, terutama di wilayah rawan banjir dan longsor. Anak-anak diajak membuat alatnya sendiri, lalu mencatat curah hujan setiap hari. Dari kegiatan sederhana ini, mereka belajar membaca angka dan memahami kaitannya dengan risiko bencana di sekitar mereka.

“Melalui kegiatan sederhana ini, mereka belajar menjadi pengamat alam. Ini menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan dan memperkuat budaya ilmiah sejak dini,” tambahnya.

ATHUS dipasang di wilayah hulu daerah aliran sungai (DAS) yang tidak terjangkau alat milik BMKG. Data yang dihasilkan dapat terhubung dengan VEWS (Village Early Warning System) — sistem peringatan dini banjir dan longsor berbasis masyarakat. VEWS telah diimplementasikan di Banjarnegara dan Wonosobo, serta kini diuji di Semarang.

Selain VEWS dan ATHUS, Hunggul juga memperkenalkan SI TERKA (Sistem Determinasi Teknik Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah), aplikasi berbasis web dan Android yang memanfaatkan artificial intelligence (AI) untuk pengambilan keputusan terkait pengelolaan lahan, tanah, dan air.

ATHUS telah masuk dalam daftar 102 Inovasi Prospektif Indonesia (2012) dan direkomendasikan dalam Peraturan Dirjen PHKA No. P.07/IV-Set/2014 sebagai perangkat pendukung konservasi berbasis masyarakat.

Dalam konteks pameran InaRI Expo 2025 bertema “Unlocking Innovation, Empowering the Future with AI”, Hunggul menegaskan pentingnya peran teknologi digital dan kecerdasan buatan sebagai motor penggerak hilirisasi riset serta kolaborasi antara sains, pemerintah, dan masyarakat.

(Fika Hamzah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....