Perselisihan Harga Starlink: Pentagon dan SpaceX Memanas di Tengah Konflik Iran
- 30 Mei 2026 00:27 WIB
- Manado
RRI.co.id, Manado - Hubungan antara Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) dan SpaceX milik Elon Musk dilaporkan merenggang. Ketegangan ini dipicu oleh lonjakan harga tarif jangkauan satelit Starlink yang naik hingga lima kali lipat di tengah ketergantungan militer AS yang kian besar dalam konflik bersenjata dengan Iran.
Berdasarkan dokumen internal Pentagon dan informasi dari sejumlah sumber yang dihimpun Reuters, Selasa (26/5/2026), SpaceX meminta kenaikan biaya jangkauan wilayah dari USD 5.000 (sekitar Rp80 juta) menjadi USD 25.000 (sekitar Rp400 juta) per bulan untuk setiap terminal yang dipasang pada pesawat tanpa awak (drone).
Perselisihan tajam ini berpusat pada penggunaan jaringan internet satelit Starlink pada drone bunuh diri model LUCAS milik AS. Pihak SpaceX berargumen bahwa operasi militer intensif yang dilakukan drone tersebut masuk ke dalam kategori layanan penerbangan (aviation tier) yang memiliki tarif tertinggi, bukan layanan mobilitas darat biasa.
Sebaliknya, pihak Pentagon sempat melayangkan protes. Mereka menilai tarif USD 25.000 per bulan tidak masuk akal jika dibebankan pada sebuah drone kamikaze yang hanya menggunakan koneksi satelit dalam hitungan menit atau jam sebelum akhirnya meledak menabrak target.
Namun, demi kelancaran operasi serangan, Pentagon akhirnya mengalah dan menyetujui kenaikan harga tersebut. Keputusan ini praktis melipatgandakan biaya operasional per unit dari drone komparatif jenis Shahed tersebut.
Ketergantungan AS terhadap pasokan teknologi komersial ini dinilai menempatkan posisi pemerintah dalam posisi yang sulit. Terlebih, SpaceX saat ini menguasai lebih dari 60 persen satelit yang mengorbit di ruang angkasa, tanpa ada kompetitor tradisional yang mampu menandingi.
"SpaceX benar-benar memegang kendali penuh atas Pemerintah AS (has the U.S. government over the barrel)," ujar Clayton Swope, peneliti senior dari Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Selain perkara drone, Pentagon dan SpaceX juga dilaporkan mengalami jalan buntu terkait proyek penyediaan layanan direct-to-cell (koneksi langsung ke ponsel pintar) bagi warga sipil Iran. Proyek kemanusiaan yang bertujuan menembus blokade internet pemerintah Iran tersebut terhambat lantaran SpaceX meminta biaya peluncuran awal sebesar USD 500 juta ditambah biaya operasional bulanan mencapai USD 100 juta.
Hingga berita ini diturunkan, pihak SpaceX menolak memberikan komentar resmi terkait rincian kenaikan tarif, sementara Pentagon enggan memberikan rincian dokumen kontrak demi alasan keamanan nasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....