Argentina Selidiki Kaitan Hantavirus di Kapal Pesiar & Perubahan Iklim
- 08 Mei 2026 04:29 WIB
- Manado
RRI.co.id, Manado - Pemerintah dan pakar kesehatan Argentina kini tengah bergerak cepat untuk mengidentifikasi sumber wabah Hantavirus mematikan yang melanda kapal pesiar MV Hondius. Investigasi difokuskan pada apakah negara tersebut menjadi titik awal penularan sebelum kapal bertolak menuju Antartika.
Krisis kesehatan ini mencuat setelah tiga penumpang kapal pesiar tersebut dilaporkan meninggal dunia. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), korban terdiri dari pasangan suami istri asal Belanda dan seorang wanita asal Jerman.
Argentina saat ini memang sedang menghadapi lonjakan kasus Hantavirus yang signifikan. Kementerian Kesehatan setempat melaporkan terdapat 101 infeksi sejak Juni 2025, angka yang meningkat dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Para ahli memperingatkan bahwa perubahan iklim berperan besar dalam fenomena ini. Kondisi cuaca yang tidak menentu, seperti hujan intensitas tinggi yang menyusul kekeringan panjang, memicu ledakan populasi tikus pembawa virus karena ketersediaan sumber pangan yang melimpah di alam.
"Argentina menjadi lebih tropis karena perubahan iklim. Hal ini membawa disrupsi ekosistem yang membuat tikus berkembang biak di lebih banyak tempat," ujar Hugo Pizzi, spesialis penyakit menular terkemuka di Argentina.
Menentukan titik pasti penularan menjadi tantangan besar bagi tim medis karena masa inkubasi virus yang cukup panjang, yakni satu hingga delapan minggu. Para penyelidik sedang melacak jejak perjalanan para korban, termasuk aktivitas pengamatan burung (bird-watching) di Ushuaia dan perjalanan di kawasan hutan Patagonia.
Varian yang teridentifikasi adalah Virus Andes, jenis Hantavirus di Amerika Selatan yang dapat memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Penyakit ini menyerang paru-paru dan memiliki tingkat fatalitas yang tinggi; tercatat hampir sepertiga dari total kasus di Argentina berakhir dengan kematian dalam setahun terakhir.
Pihak berwenang mengimbau wisatawan untuk tetap waspada, terutama di destinasi wisata alam seperti Bariloche yang baru saja mencatat kasus manusia pertama di tahun 2026.
Kesulitan utama dalam penanganan dini adalah gejala awalnya yang sangat menyerupai flu biasa, seperti demam dan menggigil. Hal ini seringkali membuat pasien terlambat mencari bantuan medis profesional. Saat ini, pemerintah Argentina terus melakukan pelacakan kontak erat dan pemantauan aktif guna mencegah penyebaran yang lebih luas di daratan maupun di jalur maritim.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....