Hari Kesetaraan Perempuan, Bukan Sekedar Tanggal DiKalender

  • 26 Agt 2025 10:19 WIB
  •  Manado

KBRN,Manado : Hari Kesetaraan Perempuan yang diperingati setiap tanggal 26 Agustus kembali menjadi momentum penting dalam perjuangan mewujudkan kesetaraan gender di berbagai sektor kehidupan.Ditahun 2025 ini,berbagai organisasi perempuan,aktivis, serta tokoh masyarakat menyerukan aksi nyata untuk menghapus diskriminasi dan memastikan kesempatan yang setara bagi perempuan di Indonesia dan seluruh dunia.

Peringatan ini berakar dari sejarah panjang perjuangan perempuan dalam memperoleh hak-haknya, termasuk hak untuk memilih, bekerja, mendapatkan pendidikan, serta bebas dari kekerasan dan diskriminasi.Di banyak negara,tanggal ini juga dikenal sebagai Women’s Equality Day,memperingati saat perempuan di Amerika Serikat pertama kali diberikan hak pilih pada 1920.

Dikutip dari laman Britannica.com, tanggal 26 Agustus 1970 menandai peringatan 50 tahun disahkannya Amandemen Kesembilan belas Konstitusi AS,yang memberikan hak pilih penuh bagi perempuan.Pada peringatan tersebut,Organisasi Nasional untuk Perempuan (NOW) mengajak perempuan untuk berdemonstrasi menuntut kesetaraan hak dalam sebuah "mogok kerja untuk kesetaraan" nasional.Beberapa demonstran mengibarkan dua spanduk setinggi 40 kaki (12 meter) di mahkota Patung Liberty,sementara yang lain menarik perhatian pada aksi mogok tersebut dengan menghentikan mesin penjual tiket di Bursa Efek Amerika.

Lebih dari 100.000 perempuan lainnya berpartisipasi dalam demonstrasi dan unjuk rasa di lebih dari 90 kota besar dan kecil di seluruh negeri,menjadikan pemogokan ini sebagai protes kesetaraan gender terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.Di New York City,50.000 perempuan berbaris di Fifth Avenue untuk mendukung gerakan perempuan dan kesetaraan hak; mantan presiden NOW Betty Friedan,penulis feminis Gloria Steinem,dan Anggota DPR AS Bella Abzug berpidato di hadapan massa. Para perempuan menuntut kesempatan yang sama dalam pendidikan dan pekerjaan, serta akses ke pusat penitipan anak 24 jam.

Meskipun pemogokan tersebut tidak membawa perubahan langsung, pemogokan tersebut sangat berhasil menunjukkan luasnya dukungan terhadap hak-hak perempuan, dan liputan pers yang diterimanya menarik perhatian signifikan terhadap gerakan feminis. Misalnya, liputan New York Times tentang pemogokan tersebut menandai artikel pertama publikasi tersebut tentang gerakan tersebut. Pemogokan tersebut juga membantu mengamankan pengesahan Amandemen Hak yang Sama oleh Kongres pada tahun 1971–72; namun amandemen tersebut kemudian gagal diratifikasi oleh tiga perempat badan legislatif negara bagian yang diperlukan.Pada tahun 1971, Kongres secara resmi mengakui tanggal 26 Agustus sebagai Hari Kesetaraan Perempuan,yang tidak hanya memperingati ratifikasi Amandemen Kesembilan Belas tetapi juga menyoroti upaya berkelanjutan perempuan untuk mencapai kesetaraan penuh.

Peringatan Hari Kesetaraan Perempuan tahun ini menjadi pengingat bahwa meskipun kemajuan telah diraih, perjuangan masih harus terus dilanjutkan. Kesetaraan bukan hanya hak perempuan, tetapi pondasi bagi keadilan sosial dan pembangunan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....