Dari Parkiran Pasar Bersehati Manado ke Tanah Suci, Perjuangan Ismail Menuju Haji
- 02 Mei 2026 01:56 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado — Perjalanan hidup Ismail Pombode menjadi bukti bahwa jalan menuju Tanah Suci bisa datang dari arah yang tak terduga. Di usianya yang menginjak 69 tahun, warga Kelurahan Ternate Baru, Kecamatan Singkil ini akhirnya berkesempatan menunaikan ibadah haji tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Wajah Ismail tampak sumringah usai mengikuti arahan dari Kepala Kantor Wilayah Haji dan Umrah Sulawesi Utara, Wahyudin Ukoli, di Aula Wisma Haji Manado, Jumat (1/5/2026). Ia mengaku bersyukur karena dari ribuan calon jemaah, dirinya termasuk yang dipanggil sebagai peserta haji tahun ini.
“Saya awalnya masuk daftar cadangan. Lalu ditelepon untuk pelunasan dengan syarat tanda tangan kesiapan. Ternyata Allah kabulkan niat kami,” ujar Ismail dengan suara lirih.
Ayah tiga anak tersebut menuturkan, keinginannya untuk berhaji sudah ada sejak lama. Namun, jalan menuju Baitullah justru terbuka melalui peristiwa duka, yakni bencana banjir bandang yang melanda kediamannya pada 2014 silam.
Rumahnya saat itu ikut terdampak banjir besar. Dari peristiwa tersebut, Ismail yang kini memiliki empat cucu menerima bantuan pemerintah. Dari situlah muncul tekad kuat untuk menunaikan rukun Islam kelima.
“Allah menggerakkan hati saya dan anak-anak saat menerima bantuan tahun 2015. Uang itu langsung kami jadikan setoran awal haji sebesar Rp25 juta,” tuturnya.
Sehari-hari, Ismail dikenal sebagai tukang parkir di kawasan Pasar Bersehati Manado. Sejak usai salat Subuh, ia sudah bersiap mengatur kendaraan pengunjung pasar hingga aktivitas selesai.
Dari penghasilannya sebagai juru parkir, Ismail menabung secara konsisten selama lebih dari satu dekade. Dengan disiplin, ia menyisihkan antara Rp5.000 hingga Rp10.000 setiap hari.
“Sedikit demi sedikit saya tabung. Tidak terasa sudah 11 tahun,” katanya.
Keramahan dan kesantunan Ismail membuatnya dikenal luas oleh para pedagang maupun pengunjung pasar. Banyak yang terkesan dengan sikapnya yang rendah hati.
Kisah Ismail menjadi inspirasi bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih impian, termasuk menunaikan ibadah haji. Di balik musibah, selalu ada hikmah bagi mereka yang tetap berikhtiar dan bersabar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....