Akafuji Membawa Fuji ke UNEEK
- 20 Sep 2026 22:31 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Ada satu gambar Gunung Fuji yang sudah melewati batas zaman. Namanya Akafuji atau Red Fuji, karya Katsushika Hokusai dari seri Thirty-six Views of Mount Fuji yang dibuat sekitar 1830 sampai 1832. Dikutip dari koleksi The Metropolitan Museum of Art, karya berjudul South Wind, Clear Sky menggambarkan Fuji dengan rona kemerahan yang memang dapat muncul saat fajar pada awal musim gugur. Hokusai menampilkan gunung tersebut hampir tanpa kehadiran manusia, sehingga bentuk Fuji menjadi pusat perhatian. Visual sederhana ini kemudian menjadi salah satu penggambaran Fuji yang paling dikenal dan memperlihatkan bagaimana alam dapat menjadi subjek utama dalam seni Jepang.
Inspirasi tersebut sekarang berpindah dari cetakan kayu ke alas kaki melalui kolaborasi KEEN dan atmos dalam UNEEK Akafuji. Dikutip dari halaman produk resmi atmos, desain ini mengambil inspirasi dari Akafuji dan menerjemahkan karakter alam Jepang ke dalam warna. Paletnya bergerak di sekitar earthy tones dan natural tones, dengan nuansa merah hangat yang mengingatkan pada Fuji ketika terkena cahaya matahari. atmos juga mengaitkan konsepnya dengan suasana alam, musik, dan kebebasan bergerak. Jadi, referensinya tidak dibuat sebagai reproduksi langsung lukisan Hokusai. Identitas Akafuji justru diterjemahkan menjadi bahasa visual yang lebih modern dan mudah dipakai sehari-hari.
Pilihan modelnya juga punya alasan. UNEEK merupakan salah satu siluet khas KEEN yang menggunakan konstruksi tali terbuka untuk membentuk bagian atas sepatu. Pada rilisan Akafuji, karakter tersebut dipertahankan dan dipadukan dengan material 3 mm recycled PET round polyester cord, microfiber upper, serta footbed PU yang dibentuk mengikuti kontur kaki. Dikutip dari laman resmi atmos, outsole UNEEK menggunakan laser siping untuk membantu memberikan grip, sementara bagian midsole dirancang untuk memberikan penyerapan benturan. Hasilnya adalah desain yang masih terasa sebagai UNEEK, tetapi mendapatkan identitas baru lewat warna dan cerita di baliknya.
Menariknya, Akafuji tidak berhenti pada referensi sejarah seni. atmos menggambarkan rilisan ini dengan suasana perjalanan dari kota menuju alam, musik, festival, dan waktu bersama teman. Konsep tersebut membuat kolaborasi KEEN dan atmos punya benang merah yang cukup jelas. Hokusai mengambil Gunung Fuji dan mengubahnya menjadi karya visual. Kini, atmos dan KEEN mengambil interpretasi Fuji tersebut lalu membawanya ke objek yang digunakan untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain. UNEEK Akafuji sebelumnya diperkenalkan melalui pop-up atmos di Grand Indonesia dan kini tersedia melalui atmos di Indonesia. Pada akhirnya, sebuah karya dari Jepang abad ke-19 mendapatkan pembacaan baru lewat fashion dan kultur jalanan masa kini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....