Resilience, Melihat Dunia lewat Fotografi

  • 20 Sep 2026 22:26 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Bagaimana jika krisis iklim, perubahan sosial, ketimpangan ekonomi, konflik, sampai ketidakpastian politik diterjemahkan lewat sebuah foto? Pertanyaan itu menjadi salah satu pintu masuk Jakarta International Photo Festival atau JIPFest 2026. Memasuki edisi keenam, JIPFest membawa tema Resilience dan berlangsung pada 11 sampai 20 September 2026 di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta. Dikutip dari situs resmi JIPFest, tema ini mengajak publik melihat resiliensi sebagai kemampuan manusia dan komunitas untuk menghadapi perubahan, memulihkan diri, beradaptasi, serta membangun kembali solidaritas. Jadi, foto yang hadir di festival ini tidak berhenti sebagai dokumentasi sebuah kejadian. Setiap karya membawa cerita tentang bagaimana manusia merespons dunia yang terus berubah.

Gagasan tersebut terlihat dari proses kurasi JIPFest 2026. Dikutip dari pengumuman resmi JIPFest, tim kurator Chelsea Chua dari Singapura dan Yoppy Pieter dari Indonesia memilih 22 proyek fotografi dan multimedia dari 17 negara untuk pameran utama. Karya-karya tersebut dipilih dari 408 pengajuan yang mewakili seniman dari 58 negara, ditambah sejumlah karya hasil undangan kurator. Isinya beragam, mulai dari persoalan krisis iklim, ketimpangan sosial, konflik, sejarah personal, gerakan akar rumput, sampai upaya membangun keadilan dan penyelesaian konflik. Angka tersebut memperlihatkan bahwa Resilience tidak dipahami dalam satu bentuk saja. Ada cerita tentang bertahan, tetapi ada juga cerita tentang kehilangan, pemulihan, adaptasi, dan usaha untuk kembali membangun kehidupan.

JIPFest 2026 kemudian memperluas pembicaraan itu melalui JIPFest Connect. Program ini mempertemukan festival dengan komunitas, lembaga, individu, dan pelaku industri kreatif dari berbagai bidang. Berdasarkan informasi resmi Kementerian Ekonomi Kreatif, rangkaian JIPFest tahun ini juga mencakup pameran, instalasi interaktif, diskusi, workshop, festival tour, performance, dan curatorial tour. Ada pula program publik seperti Artist Talk, Portfolio Review, Public Lecture, serta ruang diskusi yang mempertemukan fotografer, seniman, kurator, dan masyarakat. Dengan format seperti ini, fotografi ditempatkan sebagai medium untuk bertukar gagasan. Foto menjadi titik awal untuk membicarakan persoalan yang lebih luas, termasuk bagaimana ekosistem fotografi Indonesia dapat berkembang dan terhubung dengan jaringan internasional.

Rangkaian JIPFest 2026 kemudian ditutup bersama Indonesia Photo Fair atau IPF 2026 pada 18 sampai 20 September di Galeri Emiria Soenassa dan Galeri S. Sudjojono, Taman Ismail Marzuki. Mengusung tema Where Photography Meets Culture, Commerce, and Community, IPF mempertemukan fotografer, penerbit, kolektor, pelaku industri, komunitas, dan publik. Dikutip dari informasi penyelenggara JIPFest, rangkaian ini menunjukkan bahwa perjalanan sebuah karya fotografi tidak berhenti ketika foto selesai dibuat. Ada proses melihat, mendokumentasikan, memamerkan, mendiskusikan, mengoleksi, hingga mempertemukannya dengan masyarakat. Pada akhirnya, JIPFest 2026 menggunakan fotografi untuk mengajak kita melihat kembali satu pertanyaan sederhana. Ketika keadaan berubah, apa yang dilakukan manusia untuk tetap bertahan, pulih, beradaptasi, dan bergerak bersama?

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....