Rindo, Suara Labuan Bajo yang Berkarya
- 20 Sep 2026 22:21 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Bagaimana musik, aktivitas bernyanyi, dan pariwisata bisa bertemu dalam satu ruang? Pertanyaan itu coba dijawab Pesta Kampung 2026 melalui tema Rindo. Dalam bahasa Manggarai dialek Kempo, rindo berarti menyanyi. Kata ini kemudian menjadi pintu masuk untuk membaca kembali hubungan antara musik dan kehidupan masyarakat Labuan Bajo di tengah perkembangan kota pariwisata. Dikutip dari situs Pesta Kampung, Rindo diarahkan untuk membaca kota melalui suara warganya sekaligus menghubungkan warisan budaya dengan produksi karya baru. Jadi, musik dalam festival ini tidak ditempatkan sekadar sebagai hiburan. Ia menjadi bagian dari cara masyarakat merekam perubahan kota dan mempertahankan ruang bagi karya lokal.
Pesta Kampung 2026 juga berjalan dengan konsep yang cukup berbeda. Sejak awal tahun, festival ini dikembangkan melalui sejumlah program berbentuk series. Prosesnya mencakup riset, penelusuran pengetahuan warga, penciptaan karya, lokakarya, dokumentasi, pertemuan publik, sampai pertunjukan. Dikutip dari presentasi Aden Firman dari Kolektif Videoge, Pesta Kampung diposisikan sebagai festival proses. Artinya, festival tidak berhenti pada acara puncak, tetapi menjadi cara untuk menemukan metode kerja komunitas dalam merespons perubahan Labuan Bajo. Salah satu hasil proses tersebut adalah Labuan Bajo Music Lab yang mempertemukan musisi lokal dengan proses produksi karya. Karya para musisi terpilih kemudian dihimpun dalam album kompilasi Rindo/Dere Vol. 1. Di titik ini, musik menjadi arsip sekaligus karya baru yang lahir dari kota yang sedang berkembang.
Hubungan antara seni dan pariwisata juga diperluas melalui isu lingkungan. Pesta Kampung berkolaborasi dengan IKLIM, Inisiatif Kebudayaan, Lingkungan, Informasi, dan Media, bersama komunitas Videoge Arts and Society. Dalam profil resminya di LinkedIn, IKLIM menjelaskan bahwa mereka bekerja di persimpangan budaya, lingkungan, informasi, dan media dengan musik sebagai salah satu pintu utama untuk mendorong aksi iklim. Kolaborasi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam gagasan festival yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Pada puncak perayaan Rindo, programnya mencakup workshop bersama IKLIM dan Yayasan Lentera, Pawai Otokol dengan kendaraan lokal masyarakat Manggarai, bincang tematik, serta ruang usaha anak muda melalui Tiba-Tiba Dagang. Pesta Kampung akhirnya tidak hanya membicarakan apa yang terdengar dari panggung, tetapi juga bagaimana sebuah festival menggunakan ruang kota, melibatkan warga, dan mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan kreatif.
Puncaknya, panggung Rindo mempertemukan musisi dari jaringan IKLIM seperti Sebelah Mata, Majelis Lidah Berduri, Tuan Tigabelas, dan Bunyi Waktu Luang dengan musisi tuan rumah dari Labuan Bajo. Ada Iwan Soulroots, Oldwall, Redfret, Agung Sene, Ourorah, hingga St. Yowzha yang terpilih melalui Labuan Bajo Music Lab. Dari sini, Pesta Kampung 2026 menawarkan cara lain untuk melihat Labuan Bajo. Kota wisata tidak hanya punya lanskap, hotel, kafe, dan destinasi alam. Ada pula warga yang bernyanyi, musisi yang menciptakan karya, komunitas yang mengarsipkan pengetahuan, serta ruang kreatif yang terus mencari bentuk. Rindo menjadi pengikat semuanya. Musik hadir sebagai bagian dari kehidupan kota, sementara pariwisata menjadi ruang yang perlu terus berdialog dengan budaya dan masyarakat yang menghidupinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....