Dari Jurnal ke Food Diary Digital

  • 13 Sep 2026 21:21 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Menulis jurnal mungkin terdengar seperti aktivitas yang sangat personal. Kamu menulis apa yang terjadi hari ini, mencatat hal yang membuat senang, atau sekadar menuangkan pikiran sebelum tidur. Menariknya, kebiasaan ini kembali mendapatkan perhatian dalam beberapa tahun terakhir, termasuk lewat bentuk digital. Penelitian Justine Richelle dan Nicole Alea yang dipublikasikan dalam Journal of Creativity in Mental Health pada 2024 menemukan bahwa positive affect journaling dapat meningkatkan emosi positif dan memberikan manfaat pada aspek kesejahteraan psikologis. Studi tersebut melibatkan 119 mahasiswa yang diminta menuliskan perubahan positif dalam pengalaman mereka selama masa awal pandemi. Dikutip dari penelitian Richelle dan Alea, aktivitas menulis membantu peserta mengolah kembali pengalaman yang sudah mereka lalui, meski efeknya tentu tidak berarti bahwa journaling otomatis menyelesaikan persoalan kesehatan mental. Jadi, jurnal hari ini tidak harus selalu berbentuk buku dengan halaman kosong. Ia bisa berpindah ke layar dan mengambil bentuk yang jauh lebih dekat dengan keseharian kita.

Salah satu bentuk digital journaling yang paling mudah ditemukan sebenarnya sudah ada di timeline kita setiap hari. Makanan difoto, tempat makan ditandai, lalu pengalaman ditulis dalam beberapa kalimat. Ada yang menemukan hidden gem dan langsung merekomendasikannya. Ada yang menemukan makanan viral lalu merasa biasa saja. Ada juga yang rela membuat ulasan panjang karena satu menu benar-benar berhasil membuat mereka datang kembali. Aktivitas ini pada dasarnya mengubah pengalaman makan menjadi catatan publik. Bedanya, diary konvensional mungkin hanya dibaca oleh diri sendiri. Food diary digital bisa dibaca orang lain dan bahkan memengaruhi keputusan mereka untuk mencoba sebuah tempat. Di sinilah kebiasaan berbagi pengalaman kuliner bertemu dengan budaya review, rekomendasi, dan content creation.

Konsep tersebut kemudian dibawa Grab lewat Grab Moments, sebuah feed penemuan kuliner di dalam aplikasi Grab. Dikutip dari laman resmi Grab Merchant, Grab Moments memungkinkan pengguna membagikan foto, ulasan, dan rekomendasi dari pengalaman makan mereka. Konten tersebut kemudian dapat membantu pengguna lain menemukan restoran, hidden gem, atau menu yang ingin dicoba. Yang menarik, pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai unggahan. Pengguna yang menemukan sebuah tempat melalui Grab Moments dapat langsung melanjutkan ke tindakan seperti memesan makanan, melakukan reservasi, atau mencari rute menuju restoran. Grab juga memosisikan fitur ini sebagai ruang yang membuat pengalaman konsumen ikut membantu bisnis mendapatkan eksposur. Dengan kata lain, satu foto makanan yang kamu unggah bisa menjadi rekomendasi bagi orang lain dan sekaligus menjadi pintu masuk bagi sebuah tempat makan untuk ditemukan lebih banyak orang.

Lalu muncul konsep eatfluencer. Tidak harus punya ratusan ribu followers untuk membicarakan makanan yang kamu suka. Yang dibutuhkan justru pengalaman dan opini yang terasa personal. Kamu makan, kamu punya pendapat, lalu kamu membagikannya. Jika pengalaman itu berguna bagi orang lain, konten tersebut punya nilai lebih dari sekadar dokumentasi pribadi. Grab Moments mencoba membangun ekosistem tersebut dengan memberi ruang bagi pengguna untuk menjadi bagian dari proses discovery sekaligus mendapatkan rewards melalui aktivitas eatfluencer. Pada akhirnya, tren journaling digital memperlihatkan bagaimana cara kita menyimpan pengalaman ikut berubah. Dulu pengalaman ditulis untuk diri sendiri. Sekarang pengalaman bisa difoto, diberi komentar, dibagikan, ditemukan orang lain, lalu ikut menentukan tempat mana yang ramai dan mana yang terlewat. Jadi, mungkin food diary versi sekarang memang tidak lagi tersimpan di laci. Ia ada di timeline, di aplikasi, dan di antara rekomendasi makanan yang setiap hari kita cari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....