Menemukan Ruang Tenang lewat Gambar
- 06 Sep 2026 21:21 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Di tengah ritme kota yang menuntut semuanya serba cepat, Fandy Susanto memilih berhenti sejenak. Desainer grafis asal Jakarta yang dikenal melalui nama Fffffandy ini menghadirkan solo exhibition bertajuk The days are Long, but the years are short di WISH LESS Gallery, Tokyo, Jepang. Pameran yang berlangsung pada 29 Agustus hingga 6 September 2026 ini berangkat dari pengalaman menghadapi tekanan pekerjaan, kehidupan perkotaan, serta tuntutan untuk terus produktif dan efisien. Dikutip dari situs resmi WISH LESS Gallery, pameran ini lahir dari ketegangan antara rutinitas yang padat dan kehidupan pribadi yang terasa terus tertunda. Dari situ, gambar menjadi ruang bagi Fandy untuk melihat kembali apa yang sebenarnya ia rasakan.
Menariknya, Fandy tidak memulai karya-karyanya dengan konsep yang sudah dikunci sejak awal. Ia justru membiarkan proses menggambar berjalan secara intuitif. Garis, bentuk, dan ide muncul terlebih dahulu, sementara maknanya kadang baru ditemukan setelah karya selesai. WISH LESS Gallery menjelaskan bahwa pendekatan tersebut memberi ruang bagi pikiran bawah sadar dan emosi yang sebelumnya sulit dirumuskan untuk muncul secara alami. Hasilnya terasa personal, tetapi tetap dekat dengan pengalaman banyak orang yang hidup dalam ritme kota besar. Ada tekanan pekerjaan, dorongan untuk selalu bergerak, dan kebutuhan untuk terus menyesuaikan diri. Di balik karya yang terlihat ringan dan playful, tersimpan refleksi tentang kehidupan yang terlalu sering dijalani dalam mode sibuk.
Judul The days are Long, but the years are short juga menjadi bagian penting dari gagasan pameran ini. Kalimat tersebut menggambarkan pengalaman ketika hari terasa panjang karena dipenuhi pekerjaan dan rutinitas, tetapi waktu dalam skala yang lebih besar justru berlalu sangat cepat. Menurut keterangan WISH LESS Gallery, karya-karya Fandy juga berangkat dari keinginan pribadi untuk hidup lebih perlahan dan mencoba cara hidup yang berbeda. Gagasan itu membuat pameran ini terasa seperti percakapan antara produktivitas dan kebutuhan untuk mengambil jarak. Bagi Fandy, menggambar bukan sekadar aktivitas visual. Proses tersebut menjadi cara untuk mengenali beban pikiran, menangkap perasaan yang sulit diucapkan, lalu mengubahnya menjadi bentuk yang bisa dilihat. Pendekatan ini sejalan dengan profil Fandy di POPEYE ONLINE STORE, yang menyebut praktik menggambarnya sebagai aktivitas reflektif yang berkembang berdampingan dengan pekerjaannya sebagai desainer.
Pameran di Tokyo ini juga menjadi kelanjutan dari perjalanan Fandy di ranah seni. WISH LESS Gallery mencatat sejumlah proyek dan pameran yang pernah diikutinya, seperti Lost in Whimsy Wisdom di Omah Budoyo, Yogyakarta, serta The Hardest Way To Make an Easy Living dan Strange Currencies di C On Temporary, Bandung. Basis data IndoArtNow juga mencatat sejumlah karya Fandy seperti Domestic Talk, Fall Season, Grit, Hot Seat, Inaudible, dan Passed Out yang memperlihatkan konsistensinya mengeksplorasi drawing dan painting. Kini, lewat The days are Long, but the years are short, perjalanan tersebut berlanjut ke Tokyo dengan pertanyaan yang terasa sederhana tetapi relevan. Ketika hidup semakin dipenuhi target, jadwal, dan tuntutan untuk selalu efisien, kapan terakhir kali kita benar-benar memberi waktu untuk berhenti dan mendengarkan pikiran sendiri? Pameran ini berlangsung di WISH LESS Gallery, 5-12-10 Tabata, Kita-ku, Tokyo, setiap Kamis hingga Minggu pukul 12.00 sampai 18.00.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....