Yayoi Kusama dan Jejak Tak Berujung
- 29 Agt 2026 20:47 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Dunia seni kontemporer kehilangan salah satu sosok paling mudah dikenali. Yayoi Kusama meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Tokyo pada 14 Agustus 2026 dalam usia 97 tahun. Kabar tersebut baru diumumkan oleh Yayoi Kusama Inc. dan Yayoi Kusama Studio Inc. pada 27 Agustus melalui situs resmi sang seniman. Dalam pernyataannya, studio menyebut Kusama tetap melukis hingga hari-hari terakhir hidupnya dan tidak pernah meletakkan kuasnya. Ia terus mengeksplorasi gagasan tentang cinta abadi dan jiwa yang kekal. Kabar ini menutup perjalanan panjang seorang seniman yang selama lebih dari delapan dekade mengubah titik, jaring, labu, cermin, dan repetisi menjadi bahasa visual yang dikenal di berbagai belahan dunia.
Cerita Kusama sebenarnya dimulai jauh sebelum Infinity Mirror Rooms membuat namanya mendunia. Lahir di Matsumoto pada 1929, ia mengalami halusinasi visual sejak kecil. Titik, pola, dan bunga seolah memenuhi ruang di sekelilingnya. Alih-alih mengabaikan pengalaman tersebut, Kusama menuangkannya ke dalam gambar dan kemudian mengembangkannya menjadi sistem visual yang sangat personal. Setelah pindah ke New York pada akhir 1950-an, ia masuk ke lingkungan avant-garde dan mengembangkan Infinity Nets, soft sculptures, happenings, hingga instalasi yang mengeksplorasi gagasan tentang infinity dan self-obliteration. Dikutip dari The Guardian, pengalaman melihat pola berulang yang memenuhi ruangan dan tubuhnya menjadi salah satu sumber penting bagi konsep artistiknya. Dari pengalaman yang sangat personal itu lahir karya seperti Dots Obsession, Narcissus Garden, Pumpkin, dan berbagai Infinity Mirror Rooms yang kemudian menjadi ikon seni kontemporer.
Kehidupan Kusama juga memperlihatkan bagaimana praktik seni bisa berjalan berdampingan dengan kehidupan yang sangat kompleks. Sejak 1977, ia secara sukarela tinggal di rumah sakit kesehatan jiwa di Tokyo dan setiap hari tetap pergi ke studio untuk bekerja. Keputusan tersebut tidak menghentikan produktivitasnya. Justru, dari sana ia terus menghasilkan lukisan, patung, instalasi, tulisan, hingga proyek kolaboratif. Karya Kusama juga pernah hadir di Indonesia melalui Museum MACAN di Jakarta, memperkenalkan pengalaman visualnya kepada publik Indonesia. Di luar museum, pengaruhnya semakin luas melalui kolaborasi dengan berbagai bidang, termasuk fashion. Namun, warisannya tetap menyimpan sisi yang perlu dibaca secara kritis. Kusama pernah mendapat kritik karena penggunaan bahasa yang dianggap ofensif dan rasis dalam salah satu karya tulisnya. Ia kemudian menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan mengakui bahwa kata-kata tersebut telah menyakiti orang lain. Ini menjadi bagian dari perjalanan seorang seniman yang tidak dapat dipisahkan dari evaluasi terhadap karya dan sikapnya.
Kepergian Kusama datang di tengah periode berkabung bagi dunia seni dan hiburan internasional. Agustus 2026 juga membawa kabar meninggalnya Dolly Parton pada 25 Agustus dalam usia 80 tahun, setelah mengalami sakit kanker, serta Tim Curry yang meninggal pada usia 80 tahun. Dunia seni Palestina juga kehilangan Sliman Mansour, seniman yang selama puluhan tahun menjadikan identitas, tanah, dan pengalaman rakyat Palestina sebagai bagian penting dari praktik melukisnya. Namun, bagi dunia seni rupa, kehilangan Kusama memiliki bobot tersendiri. Ia meninggalkan lebih dari sekadar kumpulan karya yang mudah dikenali. Ia meninggalkan cara berpikir tentang repetisi, ruang, identitas, dan ketakterhinggaan. Dikutip dari pernyataan resmi studionya, Kusama ingin seni terus membawa harapan dan kekuatan bagi manusia di masa depan. Pada akhirnya, mungkin itulah alasan mengapa titik-titiknya akan terus terlihat, bahkan ketika penciptanya sudah tidak lagi berada di studio.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....