CGV Arthouse Buka Ruang Baru Sinema
- 20 Agt 2026 13:49 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Ada satu persoalan lama dalam ekosistem film independen. Banyak film punya kualitas kuat, tetapi sulit mendapatkan layar yang cukup untuk bertemu penonton. Kini, CGV Indonesia disebut bersiap membawa kembali konsep CGV Arthouse ke Indonesia, dengan FX Sudirman, Jakarta, sebagai salah satu ruang yang disiapkan. Langkah ini menarik karena CGV Arthouse memiliki sejarah panjang di Korea Selatan. Menurut Korean Film Biz Zone, program tersebut bermula pada 2004 dengan nama Indie Theaters. Setelah melewati nama Movie COLLAGE, program ini resmi menggunakan nama CGV Arthouse pada 2014. Sejak awal, misinya memang memperluas akses terhadap film independen dan arthouse yang tidak selalu mendapat tempat dalam jalur komersial utama.
Di Korea, CGV Arthouse pernah menjadi rumah bagi berbagai film yang kemudian mendapat perhatian besar. Korean Film Biz Zone mencatat beberapa judul dalam katalog distribusinya, termasuk Microhabitat, Burning, dan Tune in for Love. Bahkan CGV Arthouse pernah bekerja sama dengan Busan International Film Festival dan Jeonju International Film Festival untuk memberikan kesempatan distribusi dan pemutaran kepada film-film pemenang penghargaan mereka. Namun, perjalanan divisi ini tidak selalu mulus. Korean Film Biz Zone melaporkan bahwa unit yang berfokus pada pendanaan dan distribusi tersebut menghentikan operasionalnya pada 2019 setelah menghadapi performa box office yang mengecewakan dari sejumlah proyek. Di sisi lain, program bioskop arthouse CGV tetap berlanjut melalui jaringan layar khusus.
Menariknya, CGV Indonesia sebenarnya sudah cukup lama beririsan dengan sinema independen. Dalam laporan tahunan Graha Layar Prima, operator CGV Indonesia mencatat penyediaan film independen dan film asing sebagai bagian dari upaya memperluas pilihan tontonan. Mereka juga menyelenggarakan festival film dan bekerja sama dengan Arthouse Film Indonesia untuk berbagai kegiatan pemutaran. Pengalaman tersebut membuat kehadiran CGV Arthouse di Indonesia terasa seperti pengembangan dari hubungan yang sudah terbentuk, bukan konsep yang benar-benar muncul dari nol. CGV Grand Indonesia juga terus digunakan sebagai salah satu lokasi pemutaran festival dan film arthouse. Bahkan ScreenDaily mencatat Jakarta World Cinema Week, yang sejak 2022 menjadi wadah khusus untuk film-film arthouse, menjadikan CGV Grand Indonesia sebagai salah satu lokasi utamanya.
Kalau konsep ini benar-benar berjalan di Indonesia, tantangannya justru ada pada bagaimana CGV menjaga keseimbangan antara akses dan bisnis. Film independen membutuhkan layar, tetapi layar membutuhkan penonton. Pengalaman CGV di Korea menunjukkan bahwa pasar film non-mainstream bisa tumbuh ketika akses pemutaran diperluas secara konsisten. Pada 2018, CGV Arthouse bahkan telah berkembang menjadi 25 layar khusus di 22 bioskop dan menayangkan 172 film independen serta arthouse dalam setahun, menurut data yang dihimpun Korean Film Biz Zone. Artinya, ruang untuk film kecil dapat dibangun ketika ada sistem distribusi dan pemutaran yang jelas. Jika model tersebut diterapkan dengan tepat di Indonesia, CGV Arthouse berpotensi menjadi jembatan baru antara sineas, distributor, dan penonton yang selama ini mencari film di luar arus utama. Bukan sekadar menambah pilihan film di bioskop, tetapi membuka kemungkinan agar lebih banyak karya punya kesempatan benar-benar bertemu penontonnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....