Ultraman Rayakan Enam Dekade
- 28 Jul 2026 14:50 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Selama enam puluh tahun, Ultraman telah berkembang dari sekadar serial tokusatsu menjadi salah satu ikon budaya pop Jepang yang dikenal di berbagai belahan dunia. Untuk merayakan perjalanan panjang tersebut, galeri seni kontemporer Nanzuka Underground menghadirkan pameran bertajuk SHUWATCH with U di Parco Museum Tokyo, Shibuya, yang berlangsung pada 3 Juli hingga 3 Agustus 2026. Berdasarkan informasi resmi dari Nanzuka Underground, pameran ini menjadi ruang pertemuan antara dunia seni kontemporer dan warisan tokusatsu yang telah menginspirasi banyak generasi. Ultraman sendiri pertama kali tayang pada 1966 dan diciptakan oleh Eiji Tsuburaya melalui Tsuburaya Productions. Sosok Eiji Tsuburaya bahkan dikenal sebagai "Dewa Tokusatsu" karena perannya yang sangat besar dalam membentuk perkembangan efek visual dan film tokusatsu di Jepang.
Alih alih hanya menghadirkan koleksi memorabilia, SHUWATCH with U mengajak para seniman untuk menafsirkan kembali sosok Ultraman melalui sudut pandang masing masing. Sebanyak 12 seniman Jepang dan internasional menampilkan karya berupa lukisan, patung, instalasi, hingga media campuran. Menurut kurasi yang dipublikasikan Nanzuka Underground, pameran ini tidak berfokus pada nostalgia semata, tetapi juga mengeksplorasi bagaimana Ultraman terus berevolusi sebagai simbol harapan, perlindungan, dan imajinasi lintas generasi. Nama nama seperti StickyMonger, Jean Jullien, Pex Pitakpong, hingga seniman asal Yogyakarta, Dwi Antono Roby, turut ambil bagian. Kehadiran Dwi Antono Roby menunjukkan bahwa pengaruh Ultraman tidak hanya hidup di Jepang, tetapi juga menjadi bagian dari inspirasi kreatif para seniman di berbagai negara.
Salah satu pandangan yang menarik datang dari seniman Ryunosuke Okazaki. Dalam pernyataan yang dimuat pada materi resmi pameran, ia mengungkapkan bahwa gestur khas Ultraman yang sering dimainkan saat kecil masih terus hadir dalam proses kreatifnya hingga sekarang. Baginya, gerakan tersebut bukan sekadar kenangan masa kecil, melainkan bentuk doa yang terus berlanjut melalui karya seni. Pernyataan itu memperlihatkan bagaimana sebuah karakter fiksi dapat meninggalkan jejak emosional yang bertahan selama puluhan tahun. Pendekatan seperti inilah yang membuat SHUWATCH with U terasa berbeda. Pameran ini tidak hanya mengangkat sejarah sebuah serial televisi, tetapi juga memperlihatkan hubungan personal antara karya budaya pop dan kehidupan para seniman yang tumbuh bersamanya.
Pengalaman pengunjung juga dirancang lebih lengkap melalui berbagai elemen koleksi eksklusif. Berdasarkan informasi resmi Parco Museum Tokyo, selama pameran berlangsung tersedia merchandise edisi terbatas yang hanya dapat diperoleh di lokasi acara. Selain itu, setiap tiket masuk dilengkapi kartu koleksi bergambar karya seni yang dibagikan secara acak sehingga mendorong pengunjung untuk mengoleksinya. Perpaduan antara seni kontemporer, budaya pop, dan pengalaman koleksi tersebut menjadikan SHUWATCH with U bukan sekadar perayaan ulang tahun ke-60 Ultraman, tetapi juga bukti bahwa karakter yang lahir pada 1966 masih mampu menginspirasi generasi baru melalui medium dan bahasa visual yang terus berkembang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....