Ditanggoeng Tida Loentoer Merekam Identitas Visual

  • 22 Jul 2026 17:41 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Sejarah tidak selalu tersimpan dalam dokumen negara atau foto peristiwa besar. Terkadang, jejak sebuah zaman justru hidup di kemasan sabun, papan reklame, kop surat, label produk, hingga tipografi pada papan toko yang setiap hari dilewati masyarakat. Gagasan inilah yang melandasi lahirnya Ditanggoeng Tida Loentoer, buku terbaru karya desainer grafis Hermawan Tanzil. Melalui penjelasan yang dibagikan Hermawan Tanzil dan penerbit R&W, buku ini merupakan hasil penelitian panjang mengenai sejarah bahasa komunikasi visual di Indonesia sekaligus upaya memahami bagaimana identitas kolektif masyarakat terbentuk melalui benda-benda yang selama ini dianggap biasa. Penelitian tersebut berawal dari arsip pribadi milik keluarganya yang bergerak di bidang percetakan di Bandung, kemudian berkembang menjadi dokumentasi visual yang jauh lebih luas.

Ditanggoeng Tida Loentoer hadir sebagai atlas desain visual Indonesia yang menghimpun lebih dari 500 artefak dari lebih dari 80 kota di lebih dari 20 provinsi. Koleksi tersebut mencakup berbagai media komunikasi visual, mulai dari kemasan produk, logo, etiket, reklame, kop surat, hingga materi promosi yang pernah beredar di ruang publik. Melalui arsip ini, Hermawan Tanzil menunjukkan bahwa sejarah desain tidak hanya lahir dari karya para desainer profesional, tetapi juga dari kreativitas para pelaku usaha, percetakan, dan masyarakat yang menciptakan identitas visual untuk kebutuhan sehari-hari. Setiap warna, bentuk huruf, ilustrasi, dan tata letak menjadi penanda perkembangan budaya, ekonomi, serta cara masyarakat Indonesia berkomunikasi pada masanya. Dengan kata lain, benda-benda sederhana itu menjadi saksi perjalanan sosial yang sering luput dari perhatian.

Pendekatan tersebut membuat buku ini lebih dari sekadar katalog desain. Ditanggoeng Tida Loentoer memperlihatkan bagaimana bahasa visual berkembang mengikuti perubahan zaman, mulai dari aktivitas perdagangan, pertumbuhan industri, hingga mobilitas masyarakat di berbagai daerah. Rekaman visual itu memperlihatkan perjalanan sebuah budaya yang bergerak dari toko ke pasar, dari pabrik ke pelabuhan, hingga akhirnya membentuk memori kolektif lintas generasi. Dikutip dari informasi yang disampaikan R&W, proyek ini mengajak pembaca melihat kembali artefak sehari-hari sebagai sumber pengetahuan yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Apa yang selama ini dianggap sebagai benda sekali pakai ternyata menyimpan cerita mengenai selera, teknologi cetak, perkembangan bisnis, hingga identitas masyarakat pada periode tertentu.

Hermawan Tanzil sendiri merupakan salah satu nama penting dalam dunia desain grafis Indonesia. Setelah menyelesaikan pendidikan di California College of the Arts & Crafts, Amerika Serikat, pada 1984, ia konsisten berkarya sekaligus mendokumentasikan perkembangan desain visual di Indonesia. Selama puluhan tahun, perhatiannya tidak hanya tertuju pada penciptaan karya baru, tetapi juga pada pelestarian arsip yang menjadi fondasi sejarah desain nasional. Ditanggoeng Tida Loentoer menjadi wujud dari komitmen tersebut. Buku yang diterbitkan oleh R&W dan tersedia melalui Dia.Lo.Gue Shop ini mengingatkan bahwa sejarah visual Indonesia tidak hanya tersimpan di museum, tetapi juga hadir dalam benda-benda yang pernah menemani kehidupan sehari-hari. Melalui dokumentasi yang teliti, Hermawan Tanzil mengajak pembaca melihat bahwa identitas budaya sering kali dibentuk oleh hal-hal kecil yang selama ini nyaris terlupakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....