Jazztination menuju Puncak Gunung
- 24 Jun 2026 18:08 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Ada alasan mengapa Jazz Gunung tetap menjadi salah satu festival musik paling unik di Indonesia setelah hampir dua dekade berjalan. Tahun ini, festival tersebut memasuki usia ke-18 dan kembali mengajak penonton menikmati jazz di tempat yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Melalui tema Jazztination, BRI Jazz Gunung Series 2026 memadukan semangat jazz dengan konsep destination, menghadirkan pengalaman menikmati musik berkualitas di tengah lanskap pegunungan yang menjadi ciri khas festival ini sejak awal. Dikutip dari informasi resmi yang dibagikan melalui kanal Jazz Gunung, tema tersebut menegaskan bahwa perjalanan menuju lokasi festival merupakan bagian penting dari pengalaman yang ingin ditawarkan. Bukan sekadar datang untuk menonton konser, tetapi juga menikmati alam, budaya, dan suasana yang sulit ditemukan di venue musik konvensional.
Tahun ini, Jazztination hadir dalam dua rangkaian festival yang berlangsung di Gunung Slamet dan Gunung Bromo. Seri Jazz Gunung Slamet yang digelar di kawasan Wanawisata Baturraden akan menghadirkan nama-nama seperti Amelia Ong, Emptyyy, Kevin Yosua Big 6 bersama Gracy Tamangendar, Mocca, dan NonaRia. Sementara itu, Jazz Gunung Bromo menghadirkan susunan musisi yang lebih luas dengan kombinasi lintas generasi dan lintas negara. Penonton akan disuguhkan penampilan dari Ali, Bilal Indrajaya, Bromo Jazz Camp, Indra Lesmana LLW bersama Eva Celia dan Teza Sumendra, Isyana Sarasvati, Ring of Fire bersama Simone Prattico dari Italia dan Sri Hanuraga, Plutato bersama Cait Lin dari Taiwan, Simone Prattico Java Collective, hingga Watchdog dari Prancis. Keberagaman ini memperlihatkan bagaimana Jazz Gunung tidak hanya menjadi panggung jazz tradisional, tetapi juga ruang pertemuan berbagai pendekatan musik kontemporer yang berkembang saat ini.
Yang membuat Jazz Gunung berbeda bukan hanya line-up musisinya. Dikutip dari materi program resmi festival, penyelenggara kembali menghadirkan berbagai aktivitas pendukung yang memperkuat pengalaman budaya dan wisata. Pengunjung dapat mengikuti Jazz Gunung Pagi-Pagi Trekking Club untuk menikmati suasana alam pegunungan sejak pagi hari. Ada pula Festival Jathilan Majapahit yang menghadirkan seni pertunjukan tradisional, Pestaraya Soto Nusantara yang merayakan kekayaan kuliner Indonesia, serta Pasar UMKM yang memberi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk mereka. Format seperti ini menjadikan Jazz Gunung lebih dekat dengan konsep festival budaya dibanding sekadar konser musik. Musik menjadi pusat perhatian, tetapi pengalaman di sekelilingnya sama pentingnya untuk dinikmati.
Sejak pertama kali digagas oleh Sigit Pramono dan didukung sejumlah tokoh seni serta musik Indonesia, Jazz Gunung dikenal sebagai festival yang menghubungkan kreativitas dengan bentang alam Nusantara. Edisi 2026 melanjutkan tradisi tersebut melalui dua lokasi yang menawarkan karakter berbeda. Jazz Gunung Slamet akan berlangsung pada 27 Juni 2026 di Baturraden, Banyumas. Sementara Jazz Gunung Bromo digelar pada 18 hingga 25 Juli 2026 di Sukapura, Probolinggo. Dengan pilihan tiket mulai dari kategori reguler hingga VIP, festival ini kembali menawarkan pengalaman yang sulit direplikasi oleh festival perkotaan. Saat matahari perlahan tenggelam di balik pegunungan dan musik mulai mengalun di udara yang dingin, Jazztination seolah mengingatkan bahwa perjalanan menuju sebuah pertunjukan terkadang bisa sama berkesannya dengan pertunjukan itu sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....