Java Jazz Pindah, Energi Tetap Sama

  • 13 Jun 2026 22:36 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Saat kalender festival mulai kembali padat, myBCA International Java Jazz Festival 2026 hadir sebagai salah satu penanda bahwa musim konser dan festival musik kembali bergulir. Tahun ini terasa berbeda karena untuk pertama kalinya festival tersebut digelar di NICE, kawasan baru yang menjadi pusat berbagai acara berskala besar di PIK 2. Meski berpindah lokasi, semangat yang membuat Java Jazz bertahan selama lebih dari dua dekade tetap dipertahankan. Dikutip dari informasi resmi Java Jazz Festival, penyelenggara kembali menghadirkan kombinasi musisi internasional dan lokal yang mewakili spektrum musik yang luas. Mulai dari jazz, soul, R&B, pop, hingga alternatif. Formula inilah yang membuat Java Jazz berkembang dari festival jazz konvensional menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas musik.

Deretan nama yang hadir tahun ini menunjukkan bagaimana batas genre semakin cair. Penonton dapat menyaksikan penampilan Jon Batiste yang dikenal lewat perpaduan jazz, soul, gospel, dan improvisasi yang eksploratif. Ada pula Ella Mai dengan warna R&B modernnya, serta Daniel Caesar yang selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu figur penting dalam perkembangan neo-soul kontemporer. Kehadiran wave to earth juga menjadi sorotan tersendiri. Band asal Korea Selatan tersebut dikenal melalui pendekatan jazz-pop alternatif yang atmosferik dan berhasil memperluas basis pendengarnya secara global. Dikutip dari profil resmi Seoul Music Awards, grup ini menjadi salah satu nama yang mendapat perhatian besar dalam gelombang musik independen Korea yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Di luar lineup utama, Java Jazz tetap mempertahankan salah satu tradisi yang paling ditunggu, yaitu kolaborasi eksklusif yang hanya dapat disaksikan selama festival berlangsung. Tahun ini terdapat pertemuan menarik antara Adikara dan Ardhito Pramono, kemudian Barsena Bestandhi bersama Nadhif Basalamah. Salah satu yang paling spesial adalah penampilan Lisa Simone bersama Harbourside Jazz dalam Tribute to Nina Simone, sebuah penghormatan kepada Nina Simone yang pengaruhnya masih terasa dalam sejarah jazz, soul, dan musik protes hingga hari ini. Sementara itu, komunitas Nyanyi Bareng Jakarta akan menghadirkan pengalaman sing-along yang menekankan kebersamaan dan partisipasi penonton, sesuatu yang semakin dicari dalam pengalaman festival modern.

Java Jazz 2026 juga memperluas definisi festival musik dengan menghadirkan berbagai aktivitas pendukung. Berdasarkan informasi resmi penyelenggara, pengunjung dapat menemukan Museum of Toys, pameran karya dari 16 seniman dengan medium yang beragam, pengalaman mendengarkan vinyl yang dikurasi bersama PHR dan demajors, area UMKM hasil kurasi Brightspot, hingga One Sony Corner yang menghadirkan berbagai pengalaman interaktif. Pendekatan ini menunjukkan bahwa festival saat ini tidak lagi hanya tentang menyaksikan musisi di atas panggung, tetapi juga tentang menikmati ekosistem kreatif yang lebih luas. Bagi mereka yang khawatir soal akses menuju PIK 2, penyelenggara juga menyediakan layanan shuttle gratis dari beberapa titik di Jakarta Selatan. Dengan kombinasi musik, seni, komunitas, dan pengalaman interaktif, Java Jazz 2026 kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu festival musik paling berpengaruh di Asia Tenggara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....