Earthwave Menari di tengah Hutan
- 25 Mei 2026 15:14 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Di tengah tren pesta elektronik yang semakin padat di ruang urban, Ruang Bavr justru membawa rave kembali ke alam terbuka lewat EARTHWAVE, sebuah acara tiga hari yang menggabungkan musik elektronik dengan pengalaman eco-sonic di tengah lanskap hutan. Digelar pada 15 sampai 17 Mei 2026 di Wisata Kampung Ciherang, acara ini terasa seperti respons terhadap kebutuhan banyak anak muda hari ini yang mulai mencari pengalaman kolektif yang lebih intim dan organik. Dikutip dari informasi yang dibagikan melalui Instagram @ruangbavr dan @earth___wave, konsep EARTHWAVE dibangun bukan sekadar sebagai rave party biasa, tetapi sebagai ruang hidup sementara di mana musik, alam, dan komunitas bisa saling menyatu. Pengunjung tidak hanya datang untuk menonton DJ set, tetapi juga tinggal, berkumpul, dan mengalami suasana hutan bersama selama beberapa hari.
Secara musikal, EARTHWAVE menghadirkan spektrum techno dan rave yang cukup beragam. Beberapa nama seperti Joddy Fauzan dari Rat, PT Hardcore Indo, hingga set b2b dari Diannov Pamungkas dan MMRTDD ikut mengisi rangkaian acara bersama kolektif lain dari berbagai kota. Namun yang menarik, musik di EARTHWAVE tidak diposisikan sebagai pusat tunggal acara. Alam justru menjadi bagian penting dari pengalaman mendengarnya. Dentuman kick drum, suara synth yang repetitif, kabut pagi, dingin malam pegunungan, dan suara serangga di sekitar lokasi menjadi satu lapisan atmosfer yang tidak bisa ditemukan di klub kota besar. Banyak dokumentasi pengunjung di media sosial juga memperlihatkan bagaimana panggung dan area acara sengaja dibuat menyatu dengan kontur hutan tanpa visual berlebihan.
Cerita di balik Ruang Bavr sendiri juga membuat acara ini terasa lebih personal dibanding festival elektronik berskala besar. Kolektif ini lahir dari pertemanan mahasiswa di Jatinangor pada 2019 yang sama-sama punya ketertarikan pada musik elektronik dan budaya DJ. Dikutip dari beberapa arsip perkenalan komunitas mereka di media sosial, Ruang Bavr tumbuh secara organik lewat tongkrongan kampus, set dadakan, dan sesi larut malam yang awalnya hanya dihadiri lingkar pertemanan kecil. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak kolektif musik independen di Indonesia memang mulai bergerak dengan pendekatan serupa. Mereka tidak lagi hanya membuat acara untuk mengejar jumlah penonton besar, tetapi lebih fokus membangun ekosistem komunitas yang terasa dekat dan berkelanjutan. EARTHWAVE terlihat menjadi perpanjangan dari semangat itu.
Fenomena rave di alam terbuka sendiri memang semakin berkembang beberapa tahun terakhir, baik di Indonesia maupun secara global. Banyak generasi muda mulai lelah dengan suasana pesta yang terlalu komersial dan mencari pengalaman yang lebih kolektif, lambat, dan dekat dengan lingkungan sekitar. EARTHWAVE muncul di momen yang tepat karena ia menawarkan kombinasi itu. Musik keras tetap ada, tetapi tidak terasa agresif. Komunal, tetapi tidak penuh tekanan sosial seperti klub malam. Dan mungkin justru di situlah kekuatan acara seperti ini. Ia bukan hanya tentang berjoget sampai pagi, tetapi tentang menciptakan ruang sementara di mana orang-orang bisa merasa hadir penuh di satu tempat, bersama suara, alam, dan komunitas yang sama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....