SIFA Bermain Dengan Seni
- 25 Mei 2026 13:48 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Setiap bulan Mei, Singapura selalu berubah menjadi panggung besar bagi seni pertunjukan internasional. Tahun ini, Singapore International Festival of Arts atau SIFA 2026 kembali hadir dengan semangat baru lewat tagline “Let’s Play!”. Dikutip dari keterangan resmi SIFA Singapore, tema tersebut bukan sekadar ajakan bermain, tetapi undangan untuk bereksperimen, terlibat, dan membiarkan seni menjadi ruang eksplorasi bersama. Festival yang pertama kali dimulai pada 1977 dengan nama Singapore Festival of Arts ini kini telah berkembang menjadi salah satu agenda budaya paling penting di Asia Tenggara. Selama hampir lima dekade, SIFA terus berubah mengikuti perkembangan zaman, tetapi tetap mempertahankan satu hal penting, yaitu mempertemukan publik dengan karya seni yang berani dan lintas disiplin.
Tahun ini program SIFA dibagi ke dalam lima pilar utama. Festival Stage, Festival Village, Festival Play!Ground, Festival House, dan Festival Late Nites. Masing-masing menawarkan pengalaman yang berbeda, mulai dari pertunjukan teater besar sampai ruang komunal yang lebih santai dan terbuka. Di beberapa area publik seperti Empress Lawn dan The Arts House at The Old Parliament, pengunjung bisa menemukan instalasi seni, pertunjukan gratis, hingga aktivitas interaktif yang membuat festival ini terasa lebih inklusif dibanding acara seni formal pada umumnya. Dikutip dari program resmi Arts House Group, beberapa nama penting dari Singapura seperti The Observatory, The Theatre Practice, dan Off Root Theatrics juga ikut mengisi rangkaian acara. Kehadiran mereka memperlihatkan bagaimana SIFA tetap memberi ruang besar untuk komunitas seni lokal di tengah hadirnya nama-nama internasional.
Namun salah satu kekuatan utama SIFA memang ada pada keberanian kurasinya. Festival ini mempertemukan karya dari berbagai negara dengan pendekatan yang sangat berbeda. Tahun ini ada Lacrima karya Caroline Guiela Nguyen dari Prancis yang membahas dunia mode dan tekanan emosional di balik industri haute couture. Ada juga reinterpretasi Hedda Gabler oleh National Theater Company of Korea, serta adaptasi Hamlet dari Peru oleh Teatro La Plaza yang dimainkan oleh aktor dengan down syndrome. Dikutip dari wawancara kuratorial Chong Tze Chien di kanal resmi SIFA, pilihan program seperti ini sengaja dibuat untuk mempertanyakan kembali siapa yang selama ini dianggap layak tampil di panggung utama seni dunia. SIFA terlihat tidak tertarik menjadi festival yang aman atau hanya menjual nama besar. Mereka justru mendorong percakapan tentang identitas, tubuh, memori, dan representasi.
SIFA 2026 juga menjadi awal penting bagi kepemimpinan baru Chong Tze Chien sebagai Festival Director hingga 2028. Ia memperkenalkan trilogi kuratorial bertajuk Legacy, Roots, dan Renaissance yang akan berjalan selama tiga tahun ke depan. Legacy untuk 2026 berfokus pada penghormatan terhadap sejarah seni pertunjukan Singapura. Roots di 2027 akan menggali identitas dan kondisi masa kini, sementara Renaissance di 2028 diarahkan untuk membayangkan masa depan seni yang baru. Pendekatan jangka panjang seperti ini membuat SIFA terasa lebih dari sekadar festival tahunan. Ia mulai dibangun seperti arsip hidup yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Dan di tengah dunia yang semakin cepat bergerak, mungkin justru itu yang membuat festival seperti SIFA tetap relevan. Seni tidak hanya ditonton, tetapi juga menjadi cara untuk memahami siapa kita hari ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....