Kinosaurus Kini Menyala Kembali

  • 25 Mei 2026 13:48 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Setelah lima tahun vakum sejak pandemi, Kinosaurus akhirnya kembali membuka ruang untuk para sineas, penonton film, dan komunitas independen di Jakarta. Kabar ini diumumkan langsung melalui akun Instagram @kinosaurusjakarta yang memperkenalkan program baru bernama Katalog, hasil kolaborasi dengan @margin__space, sebuah perpustakaan independen sekaligus ruang alternatif untuk membaca, menulis, dan bereksperimen. Bagi banyak penonton film independen, kabar ini terasa seperti kembalinya rumah lama yang sempat hilang. Kinosaurus memang bukan bioskop biasa. Sejak awal berdiri di bawah kolektif Yayasan Cipta Citra Indonesia atau YCCI, mereka lebih dikenal sebagai ruang kecil yang memberi tempat untuk film-film yang sering tidak mendapat layar di bioskop komersial. Film pendek, dokumenter, karya eksperimental, sampai retrospektif sineas lokal pernah hidup di sana.

Program Katalog sendiri akan berjalan sebagai microcinema bulanan yang dikurasi langsung oleh Kinosaurus dan disesuaikan dengan tema yang sedang diangkat oleh Margin Space di tiap periodenya. Screening akan berlangsung setiap Jumat dan Sabtu terakhir setiap bulan, lalu dilanjutkan dengan sesi diskusi setelah pemutaran film. Format ini sebenarnya yang paling dirindukan banyak penonton. Bukan sekadar datang, duduk, lalu pulang, tetapi benar-benar membicarakan film sebagai pengalaman bersama. Dikutip dari pernyataan kuratorial yang dibagikan melalui media sosial mereka, Kinosaurus dan Margin Space ingin menjadikan program ini sebagai ruang bertemu bagi ide, arsip, dan percakapan tentang sinema Indonesia. Fokus retrospektif terhadap film lokal juga menjadi keputusan menarik karena banyak karya lama Indonesia yang sebenarnya penting, tetapi jarang diputar ulang secara publik.

Kembalinya Kinosaurus juga terasa penting karena lanskap ruang alternatif film di Jakarta masih sangat terbatas. Sejak resmi menutup ruang fisiknya pada Desember 2020 akibat pandemi, banyak orang mengira Kinosaurus benar-benar berhenti beroperasi. Namun kenyataannya mereka tetap aktif lewat program seperti Kinosaurus Virtual Cinema dan Kino Learn yang menghadirkan mini classes virtual untuk publik. Mereka juga sempat membuka screening kecil di Dia.Lo.Gue sebagai bentuk adaptasi di tengah situasi pandemi. Dikutip dari arsip program dan wawancara lama bersama komunitas film internasional, Kinosaurus sejak awal memang dibangun bukan hanya sebagai tempat menonton, tetapi juga sebagai ekosistem untuk menjaga budaya diskusi film independen tetap hidup. Itu sebabnya banyak sineas muda Indonesia punya hubungan emosional dengan ruang ini.

Sampai sekarang, line-up resmi maupun tanggal pembukaan perdana Katalog memang masih dirahasiakan. Namun antusiasme publik sudah terlihat besar sejak pengumuman awal mereka dirilis. Di tengah industri bioskop yang semakin didominasi franchise besar dan algoritma streaming, hadirnya kembali ruang seperti Kinosaurus terasa penting karena mereka menawarkan pengalaman yang lebih personal dan kolektif. Menonton film di sana bukan tentang hype atau angka box office, tetapi tentang berbagi perspektif dengan orang lain di ruangan kecil yang sama. Dan mungkin justru itu yang paling dirindukan banyak orang hari ini. Ruang untuk duduk bersama, menonton sesuatu yang asing, lalu membicarakannya sampai larut malam.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....