Hari yang Perlahan Menghilang
- 10 Mei 2026 16:26 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Di tengah dunia yang semakin dipenuhi notifikasi, rekomendasi algoritma, dan arus informasi tanpa jeda, muncul keinginan untuk kembali menyentuh sesuatu yang nyata. Fenomena “go analog again” yang ramai dibicarakan sepanjang 2026 lahir dari keresahan itu.
Orang mulai kembali membeli kamera film, memutar vinyl, menulis jurnal tangan, hingga mencari pengalaman yang terasa lebih fisik dan personal. Keresahan serupa juga dibaca oleh Uji Handoko atau yang lebih dikenal sebagai Hahan lewat solo exhibition berjudul Days That Slip Away Untouched di Gajah Gallery. Dikutip dari materi kuratorial dan presentasi resmi Gajah Gallery, pameran ini berbicara tentang bagaimana pengalaman sehari-hari manusia perlahan tereduksi oleh dunia digital, ketika layar dan algoritma mulai menentukan apa yang dianggap penting, relevan, bahkan benar.
Dalam karya-karyanya, Hahan tidak tampil sebagai seniman yang anti teknologi. Ia justru memperlihatkan bagaimana manusia modern hidup dalam hubungan yang rumit dengan dunia digital. Figur-figur visualnya terasa padat, berisik, dan penuh benturan simbol budaya populer, media sosial, hingga sejarah seni rupa. Dikutip dari berbagai diskusi artist talk dan arsip praktik visualnya melalui ROH Projects, Hahan memang dikenal sering memadukan humor, kritik sosial, dan pendekatan visual yang chaotic untuk membicarakan situasi masyarakat kontemporer. Dalam Days That Slip Away Untouched, pertanyaan yang ia lempar terasa sederhana tetapi mengganggu.
Apakah manusia hari ini masih benar-benar mengalami hidup secara utuh, atau hanya mengikuti pola yang sudah dibentuk algoritma? Pertanyaan itu terasa dekat karena sebagian besar aktivitas sehari-hari sekarang memang terjadi melalui layar, mulai dari bekerja, mencari hiburan, sampai membangun identitas diri.
Salah satu pendekatan visual yang paling menarik dalam pameran ini adalah cara Hahan mengadaptasi karya seniman klasik seperti Raden Saleh dan Walter Spies, lalu mencampurkannya dengan karakter hibrida bernuansa budaya pop dan estetika internet. Hasilnya terasa seperti benturan dua dunia, antara sejarah seni yang dianggap “sakral” dengan budaya digital yang cepat, absurd, dan penuh distraksi. Di titik itu, karya Hahan seperti sedang mempertanyakan ulang bagaimana manusia modern memahami citra dan realitas. Menariknya lagi, penggarapan pameran ini juga melibatkan Ace House Collective serta para pengrajin di studionya.
Dikutip dari berbagai wawancara dan presentasi kolektif mereka, Ace House memang dikenal memiliki praktik seni yang sangat kolaboratif, bermain di wilayah seni rupa, street culture, musik, hingga desain objek. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan “ikatan estetika” yang diusung Hahan, yaitu keyakinan bahwa karya seni lahir dari relasi sosial dan ekosistem kreatif yang terus bergerak bersama.
Pameran Days That Slip Away Untouched yang dibuka untuk umum mulai 2 hingga 31 Mei 2026 akhirnya terasa lebih dari sekadar presentasi karya visual. Ia seperti ruang refleksi kecil di tengah kehidupan yang terlalu cepat bergerak. Hahan tidak menawarkan jawaban mutlak tentang bagaimana manusia harus hidup di era digital. Ia justru mengajak pengunjung untuk berhenti sejenak dan menyadari kembali hubungan mereka dengan benda fisik, ruang nyata, dan pengalaman yang tidak selalu harus dimediasi layar.
Dikutip dari pernyataan artistiknya melalui kanal resmi Gajah Gallery, pameran ini lahir dari kesadaran bahwa banyak momen dalam hidup sekarang berlalu begitu saja tanpa benar-benar disentuh atau dialami secara penuh. Dari situ, Days That Slip Away Untouched terasa relevan bukan hanya bagi penikmat seni, tetapi juga siapa pun yang pernah merasa lelah hidup di bawah ritme algoritma yang tidak pernah berhenti bekerja.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....