Skema Sintesa di ARCH:ID 2026
- 10 Mei 2026 16:09 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – ARCH:ID 2026 kembali hadir sebagai ruang temu besar bagi arsitek, desainer interior, pengembang, hingga industri material bangunan di Indonesia. Tahun ini mereka mengangkat tema Skema Sintesa. Arsitektur Keterlibatan. Tema tersebut memandang arsitektur bukan sekadar praktik membangun ruang fisik, tetapi sebagai ekosistem terbuka yang hidup dari percakapan lintas disiplin.
Dikutip dari materi kuratorial resmi ARCH:ID Official Website, pendekatan ini lahir dari kebutuhan untuk melihat arsitektur secara lebih kolektif di tengah perubahan kota, teknologi, dan tantangan sosial hari ini. Karena itu, ARCH:ID 2026 terasa berbeda. Fokusnya bukan hanya memamerkan bangunan indah atau produk premium, tetapi juga bagaimana ide, komunitas, dan kolaborasi dapat membentuk cara baru dalam merancang ruang hidup.
Semangat tersebut terlihat dari area pameran seluas 8.090 meter persegi yang dikembangkan bersama lebih dari 60 arsitek lintas generasi. Nama-nama seperti Andra Matin, Muhammad Sagitha, M. Ikhsan Hamiru, hingga Artiandi Akbar hadir bersama komunitas seperti Ibu Arsitek dan IALRC.
Kurasi dipandu oleh Afwina Kamal dari Hadiprana Design, Trianzani Sulshi dari Studio Aliri, serta Dhanie Syawalia dari Dhanie & Sal. Menariknya, setiap booth dalam pameran tidak diperlakukan sebagai lapak produk biasa. Mereka didorong membangun identitas visual dan narasi ruang yang kuat. Dari sini muncul Curated Best Booth Award, sebuah penghargaan yang menilai booth sebagai pengalaman desain utuh, bukan hanya tampilan dekoratif semata.
Di luar area pameran, ARCH:ID 2026 juga memperluas diskusi arsitektur lewat International Conference yang terbagi menjadi The Urban Forum dan The Architectural Forum. Total ada lebih dari 220 pembicara dari berbagai negara. Salah satu yang paling disorot adalah Florence Chan dari Kohn Pedersen Fox Associates yang membahas dinamika ruang publik global dan perkembangan kota vertikal.
Ada juga Manuelle Gautrand yang dikenal melalui pendekatan arsitektur eksperimental yang tetap menghormati konteks lokal, serta Marina Tabassum, penerima Aga Khan Award for Architecture yang dikenal vokal membicarakan isu kemanusiaan dan iklim dalam desain. Kehadiran Agnes Soh juga memperlihatkan bagaimana lanskap kini menjadi bagian penting dalam membangun kota yang resilien terhadap krisis lingkungan.
Dikutip dari profil para pembicara di institusi dan studio masing-masing, banyak dari mereka memang dikenal karena praktik arsitektur yang menempatkan manusia, lingkungan, dan keberlanjutan sebagai fokus utama.
ARCH:ID 2026 pada akhirnya terasa lebih mirip laboratorium ide dibanding sekadar trade exhibition. Ada 90 sesi talk series, featured exhibition, business matching, hingga kompetisi hackathon yang membuka ruang kolaborasi antara praktisi, mahasiswa, brand, dan komunitas kreatif. Ini penting karena industri arsitektur hari ini sedang bergerak ke arah yang lebih cair. Batas antara arsitektur, teknologi, seni, urbanisme, dan ekologi semakin tipis.
ARCH:ID mencoba menangkap perubahan itu lewat format yang lebih terbuka dan partisipatif. Dikutip dari pendekatan kuratorial resminya, keterlibatan menjadi kata kunci utama. Bukan hanya keterlibatan antarprofesi, tetapi juga keterlibatan publik terhadap ruang yang mereka tempati setiap hari. Di titik itu, ARCH:ID 2026 tidak hanya menawarkan inspirasi visual, tetapi juga mengajak pengunjung memikirkan ulang bagaimana desain dapat memengaruhi cara hidup manusia di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....