Menelan Cakrawala di Museum MACAN
- 10 Mei 2026 16:04 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Museum MACAN membuka tahun 2026 dengan sebuah gagasan besar tentang lanskap, memori, dan kuasa lewat program Menelan Cakrawala atau Swallow the Horizon. Program ini mempertemukan nama-nama penting lintas generasi seperti Raden Saleh, Franz Wilhelm Junghuhn, Robert Rauschenberg, hingga I Nyoman Masriadi dan Thảo Nguyên Phan. Dikutip dari presentasi kuratorial dan kanal resmi Museum MACAN, pameran ini tidak melihat cakrawala sebagai pemandangan indah semata. Lanskap justru dibaca sebagai ruang yang penuh kepentingan, mulai dari warisan kolonial, eksploitasi sumber daya, sampai kecemasan terhadap krisis ekologi hari ini. Di titik itu, karya-karya yang dipamerkan terasa seperti percakapan panjang tentang bagaimana manusia membentuk alam, lalu pada saat yang sama dihantui kembali oleh dampaknya sendiri.
Salah satu karya yang paling mencuri perhatian datang dari Dawn Ng lewat Atlantis II. Instalasi ini menggunakan es sebagai medium utama. Es dibiarkan mencair perlahan, mengubah bentuk, warna, dan keberadaannya seiring waktu berjalan. Dalam catatan praktik seninya yang dipublikasikan melalui Dawn Ng Studio, Dawn memang sering mengeksplorasi tema ingatan, kehilangan, dan perubahan material sebagai penanda waktu. Atlantis II terasa relevan dengan situasi sekarang ketika dunia berbicara tentang suhu bumi yang terus meningkat dan rapuhnya ekosistem. Menariknya, karya ini tidak tampil sebagai kampanye yang menggurui. Ia bekerja secara emosional. Pengunjung melihat sesuatu yang indah, lalu perlahan sadar bahwa keindahan itu sedang menghilang di depan mata mereka sendiri. Di sinilah pameran ini terasa kuat. Ia tidak hanya memberi tontonan visual, tetapi juga menghadirkan rasa tidak nyaman yang sulit diabaikan.
Di area Sculpture Garden, Marcos Kueh menghadirkan Kenyalang Circus, presentasi tunggal yang memanfaatkan teknik tenun digital industri untuk mereproduksi simbol-simbol sakral dari budaya Borneo. Berdasarkan penjelasan praktik artistiknya melalui Marcos Kueh Studio, Marcos memang dikenal konsisten membicarakan identitas Asia Tenggara, warisan kolonial, dan bagaimana budaya lokal dipasarkan menjadi komoditas global. Permadani buatannya tampil mencolok, penuh warna, bahkan terasa seperti materi promosi pop culture. Namun di balik itu, ada kritik yang tajam mengenai cara tradisi dipertontonkan demi konsumsi visual. Program ini juga memberi ruang untuk pengunjung anak melalui Beradu Padu karya Ruth Marbun di Ruang Seni Anak. Instalasi modular berbahan kertas itu mengajak anak-anak menyusun bentuk dan cerita mereka sendiri. Pendekatan ini menarik karena museum tidak lagi diposisikan sebagai ruang yang kaku dan penuh aturan, tetapi sebagai tempat bermain sekaligus berpikir.
Menelan Cakrawala akhirnya terasa seperti upaya Museum MACAN membaca ulang hubungan manusia dengan dunia yang mereka tinggali. Ada benturan antara sejarah dan masa depan, antara estetika dan politik, juga antara keindahan visual dan kecemasan ekologis. Kehadiran karya-karya dari seniman modern hingga kontemporer membuat pameran ini seperti jembatan panjang yang menunjukkan bahwa persoalan eksploitasi alam, representasi budaya, dan perebutan makna ternyata terus berulang dalam bentuk berbeda di setiap zaman. Dikutip dari pernyataan kuratorial resmi program Swallow the Horizon, cakrawala dalam pameran ini bukan garis netral yang diam di kejauhan, melainkan konstruksi yang dibentuk oleh kekuasaan dan cara manusia memandang dunia. Itu sebabnya program ini terasa relevan untuk generasi sekarang. Ia mengajak pengunjung bukan sekadar melihat karya seni, tetapi juga mempertanyakan ulang posisi mereka sendiri di tengah perubahan dunia yang semakin kompleks.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....