Seni Disajikan Seperti Menu Makanan

  • 03 Mei 2026 05:19 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – D Gallerie Jakarta membuka pendekatan yang tidak biasa lewat Unserious Series #1: Food for Thought. Pameran ini tidak langsung bicara karya. Ia mulai dari sesuatu yang dekat. Makanan. Ide dasarnya sederhana. Seni sering terasa jauh karena cara penyajiannya. Galeri ini justru membaliknya. Mereka menyusun pengalaman seperti membaca menu. Pendekatan ini selaras dengan pemikiran Nicolas Bourriaud tentang relational aesthetics yang menekankan interaksi dan kedekatan pengalaman penonton dengan karya, dikutip dari bukunya Relational Aesthetics.

Program The Unserious Series dirancang sebagai ruang terbuka. Tidak ada batas gaya atau medium. Seniman diminta merespons tema universal dengan cara yang personal. Di edisi pertama, makanan dipakai sebagai kerangka berpikir. Ini bukan gimmick. Dalam kajian Anthropology, makanan selalu terkait identitas, kelas, dan relasi sosial. Pendekatan ini membuat karya lebih mudah dibaca tanpa menyederhanakan maknanya. Dikutip dari publikasi Tate tentang praktik kuratorial, konteks keseharian bisa menjadi pintu masuk paling efektif untuk memahami seni kontemporer.

Kurator Wina Luthfiyya menerjemahkan ide ini ke dalam struktur enam hidangan. Ingredient, Appetizer, Main Course, Dessert, Plating, dan Aftertaste. Setiap bagian punya fungsi jelas. Ingredient bicara material dan ide awal. Main Course mengarah ke isu besar seperti konsumsi dan ekonomi seni. Aftertaste menyorot dampak yang tertinggal di kepala penonton. Struktur ini bukan dekoratif. Ia memaksa kamu mengikuti alur berpikir seniman secara bertahap. Model seperti ini sering digunakan dalam praktik pameran tematik global, seperti dijelaskan dalam riset MoMA tentang exhibition design yang menekankan narasi berlapis.

Lokasi pameran juga punya konteks kuat. D Gallerie Jakarta berdiri sejak 2001 dan beralih ke seni kontemporer sejak 2006. Perubahan ini menunjukkan adaptasi terhadap dinamika pasar dan praktik seni. Pameran ini menampilkan puluhan karya dan informasi ini juga ditegaskan langsung melalui akun Instagram resmi galeri. Yang menarik, pengalaman di sini tidak berhenti saat kamu keluar ruang pamer. Ada efek lanjutan. Kamu mulai mempertanyakan cara melihat seni. Apakah seni memang harus rumit. Atau selama ini cara penyajiannya yang membuatnya terasa jauh.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....