Kartu Pokémon Jadi Target Kriminal

  • 26 Apr 2026 00:33 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Dulu kartu Pokémon identik dengan masa kecil yang santai. Sekarang nilainya berubah drastis dan ikut mengubah perilaku orang. Dalam waktu kurang dari dua menit, dua pelaku merampok toko Next Level the Gamers Den di Washington dan membawa kabur kartu senilai hampir US$10 ribu. Dikutip dari laporan kepolisian setempat dan data ritel hobi di Amerika Serikat, kasus ini bukan kejadian tunggal. Perampokan serupa muncul di beberapa kota lain dengan target kartu langka seperti Mega Gengar yang dihargai lebih dari seribu dolar. Fenomena ini memperlihatkan pergeseran. Koleksi berubah jadi aset bernilai tinggi, dan itu menarik kejahatan.

Polanya meluas secara global. Kasus pencurian kartu Pokémon tercatat di Inggris, Kanada, Jepang, hingga Australia. Bahkan bukan hanya toko. Rumah kolektor ikut jadi sasaran. Kreator konten Pokémon bernama PokeDean menunjukkan langsung lewat kanal YouTube miliknya bahwa kartu koleksinya hilang saat rumahnya kosong, sementara barang elektronik justru tidak disentuh. Ini menunjukkan pelaku punya target spesifik. Mereka tidak sekadar mencuri, tapi tahu persis nilai barang yang diambil. Dalam konteks ini, kartu Pokémon sudah diperlakukan seperti komoditas investasi, bukan sekadar hobi.

Lonjakan nilai pasar jadi pemicu utama. Dikutip dari data penjualan platform koleksi seperti eBay dan analisis industri dari PWCC Marketplace, harga kartu Pokémon naik lebih dari 145 persen dalam setahun terakhir. Total transaksi mencapai ratusan juta dolar hanya dalam satu bulan. Momen puncaknya terlihat saat Logan Paul menjual kartu langka dengan harga US$16,5 juta. Angka ini mengubah persepsi pasar. Ketika satu kartu bisa setara harga properti, risiko kriminal ikut naik. Ini logika sederhana pasar. Nilai tinggi menarik spekulasi, lalu memicu tindakan ilegal.

Di sisi lain, kelangkaan memperparah situasi. The Pokémon Company melaporkan lebih dari 10 miliar kartu dicetak hingga 2025, tapi distribusinya tidak merata. Permintaan tinggi membuat banyak orang harus antre atau ikut sistem undangan untuk membeli rilisan baru. Celah ini dimanfaatkan scalper yang membeli stok awal lalu menjual dengan harga lebih tinggi. Akibatnya pasar makin tidak stabil. Hobi jadi kompetisi, lalu berubah jadi arena ekonomi agresif. Jadi masalahnya bukan sekadar kriminalitas. Ini soal ekosistem yang mendorong nilai naik tanpa kontrol distribusi yang sehat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....