Layar Digi Buka Akses Bioskop

  • 27 Mar 2026 20:49 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Layar Digi mencoba memotong masalah lama industri film Indonesia, distribusi yang timpang. Mereka menghadirkan micro cinema di lantai dua Alfamart. Formatnya sederhana.

Ruang kecil berkapasitas sekitar 30 sampai 50 penonton. Harga tiket mulai Rp15.000. Konsep ini mengingatkan pada layar tancap, tapi dengan standar yang diperbarui. Kursi dibuat nyaman. Sistem audio visual tetap dijaga. Ini bukan sekadar murah. Ini soal mendekatkan layar ke penonton yang selama ini jauh dari bioskop.

Masalah yang disasar jelas dan terukur. Dikutip dari pernyataan Badan Perfilman Indonesia melalui Sekjen Judith Dipodiputro, Indonesia hanya memiliki sekitar 0,7 layar per 100.000 penduduk. Angka ini rendah jika dibandingkan dengan standar kawasan Asia Tenggara menurut data UNESCO Institute for Statistics tentang akses infrastruktur budaya. Artinya, produksi film terus naik, tapi layar tidak ikut bertambah. Di titik ini, micro cinema bukan inovasi gaya. Ini respons langsung terhadap bottleneck distribusi.

Di sisi lain, permintaan sebenarnya sudah terbentuk. Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang disampaikan oleh Teuku Riefky Harsya menunjukkan produksi film nasional mencapai 176 judul per tahun dengan lebih dari 80 juta penonton. Ini angka besar. Tapi tidak semua film dapat slot tayang yang layak. Banyak karya berhenti di festival atau platform terbatas. Micro cinema membuka ruang baru. Kreator lokal bisa masuk ke ekosistem pemutaran tanpa harus menunggu layar besar yang terbatas dan kompetitif.

Langkah awal sudah dijalankan di Gading Serpong tepatnya di Alfamart Agricola pada 5 Maret. CEO Victor Timothy menyebut ekspansi akan diarahkan ke kota yang belum punya akses bioskop. Strateginya masuk akal. Namun ada hal yang perlu diuji. Apakah model ini bisa menjaga konsistensi kualitas dan kurasi film. Apakah penonton mau beralih dari bioskop konvensional. Jika dua hal ini terjawab, micro cinema berpotensi jadi solusi nyata. Jika tidak, ia hanya akan jadi alternatif sementara tanpa dampak struktural.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....