Seni Perempuan Melawan Kuasa

  • 24 Jan 2026 05:23 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Pameran Fear No Power: Women Imagining Otherwise di National Gallery Singapore menghadirkan 45 karya seni dan lebih dari 110 materi arsip dari lima seniman perempuan Asia Tenggara. Pameran ini dibuka 9 Januari hingga 15 November 2026. National Gallery Singapore menyebutnya sebagai upaya membaca ulang kekuasaan melalui seni yang berangkat dari pengalaman hidup. Pernyataan ini disampaikan dalam kuratorial statement resmi galeri yang menekankan praktik seni sebagai bentuk respons sosial, bukan sekadar ekspresi estetika.

Lima seniman yang terlibat adalah Dolorosa Sinaga dari Indonesia, Amanda Heng dari Singapura, Imelda Cajipe Endaya dari Filipina, Nirmala Dutt dari Malaysia, dan Phaptawan Suwannakudt dari Thailand. Ini menjadi pertama kalinya National Gallery Singapore menyandingkan praktik kelima seniman ini dalam satu ruang komparatif. Menurut penjelasan kurator Joleen Loh dan Qinyi Lim yang dikutip dari publikasi internal galeri, pameran ini tidak bertujuan mengelompokkan mereka dalam label feminisme tertentu. Fokusnya pada bagaimana pengalaman hidup membentuk bahasa visual dan sikap politik masing masing seniman.

Karya karya yang ditampilkan bergerak dari ranah personal hingga kolektif. Patung We Will Fight karya Dolorosa Sinaga merekam perlawanan tubuh terhadap represi. Celemek Home Service karya Amanda Heng mengangkat kerja domestik yang sering dianggap remeh. Arsip dan instalasi Imelda Cajipe Endaya berbicara tentang aktivisme perempuan di Filipina. Dalam wawancara yang dipublikasikan oleh National Gallery Singapore, Joleen Loh menjelaskan bahwa hal hal personal dalam karya ini selalu politis. Tubuh, rumah, dan ingatan menjadi medium untuk berbicara tentang kuasa.

Fear No Power tidak menawarkan jawaban tunggal. Pameran ini mengajak kamu membaca lapisan makna dan konteks sosial Asia Tenggara yang beragam. National Gallery Singapore menegaskan lewat materi edukasinya bahwa seni di sini diposisikan sebagai ruang perawatan kolektif, dialog, dan perlawanan yang tidak selalu berteriak. Informasi pameran ini juga dibagikan langsung melalui akun media sosial resmi @nationalgallerysingapore, menegaskan komitmen mereka membuka percakapan lintas generasi tentang seni dan pengalaman perempuan di kawasan.

(Sultan Jody Akbar)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....