JILF 2025 dan Tubuh Sebagai Tanah Air
- 04 Nov 2025 19:41 WIB
- Manado
KBRN, Manado: “Where can I free myself of the homeland in my body.” Larik dari puisi Mahmoud Darwish berjudul The Last Train Stopped ini kini menjadi nadi tema besar Jakarta International Literary Festival 2025.
Sebuah kalimat yang bergetar di antara sejarah, identitas, dan tubuh manusia yang menanggung beban sekaligus harapan atas makna tanah air. Melalui tema ini, JILF 2025 mengajak kita melihat bagaimana tubuh bisa menjadi ruang perlawanan, tempat menulis trauma, dan sarana melawan lupa terhadap warisan kolonialisme dan ketidakadilan.
Lewat unggahan di akun resmi Instagram-nya, JILF menegaskan bahwa tanah air bukan hanya peta di luar diri, tapi sesuatu yang tumbuh di dalam tubuh. Gagasan “homeland in my bodies” menjadi simbol pertemuan antara identitas dan pengalaman hidup yang membentuk siapa kita hari ini. Tubuh bukan sekadar medium fisik, melainkan arsip yang menyimpan ingatan, perjuangan, dan keberanian untuk bertahan di tengah perubahan. Tema ini terasa relevan, terutama di saat banyak orang kehilangan keterikatan pada ruang geografis, tapi masih mencari tempat di mana diri mereka bisa disebut “pulang”.
Untuk menggali tema sebesar ini, JILF 2025 mempercayakan arah kuratorialnya kepada tiga sosok penting: Kiki Sulistyo, Ronny Agustinus, dan Eva Mariani. Kiki dikenal sebagai penyair yang kerap menyingkap identitas melalui pendekatan etnografi dalam karyanya Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari. Ronny Agustinus, lewat Marjin Kiri, menantang batas wacana identitas kebangsaan dan ideologi yang terus berevolusi. Sementara Eva Mariani, jurnalis dan direktur Project Multatuli, membawa kepekaan kemanusiaan serta sejarah sosial yang menembus batas teks. Ketiganya membawa pandangan tajam yang menjadikan JILF tahun ini terasa sangat hidup dan kontekstual.
JILF 2025 akan berlangsung di Taman Ismail Marzuki pada 13–16 November 2025. Festival ini terbagi menjadi enam program utama: Bincang Penulis, Pasar Kata, Baca Kata, Pasar Buku, Pentas Kata, serta Tumbuh dan Merambat. Lebih dari sekadar perayaan sastra, JILF kali ini adalah ajakan untuk memahami tubuh dan tanah air sebagai ruang dialog yang terus tumbuh. Sebuah undangan bagi siapa pun yang ingin menemukan kembali makna kebangsaan lewat bahasa, cerita, dan ingatan yang hidup di tubuh kita masing-masing.
(Sultan Jody Akbar)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....