Pegiat Layangan Aduan Sulut Capai Usia 5-76 Tahun
- 12 Sep 2025 16:53 WIB
- Manado
KBRN, Manado: Dunia olahraga tradisional layangan aduan atau falingir di Sulawesi Utara ternyata digemari lintas generasi, mulai dari anak-anak usia 5 tahun hingga orang dewasa berusia lebih dari 70 tahun. Fenomena ini menunjukkan bahwa hobi turun-temurun ini masih memiliki daya tarik yang kuat di tengah arus modernisasi.
Ketua Persatuan Layangan Aduan Seluruh Indonesia (Perlasi) Sulut, Oldri O. Pantas, mengungkapkan bahwa sebaran usia pegiat falingir di daerah ini sangat beragam. Bahkan, beberapa pemain senior masih aktif meski sudah menginjak usia lanjut.
“Kalau range umur yang ada di Sulawesi Utara itu dari anak-anak yang sudah bisa main layangan, ada yang masih umur 5 tahun, 6 tahun. Kalaupun yang paling senior, masih eksis sampai sekarang itu ada yang berusia sekitar 76 tahun. Ada beberapa orang yang sudah di atas umur 70-an,” jelas Oldri.
Meski begitu, Oldri menyebut bahwa mayoritas pegiat layangan aduan berada di rentang usia muda. “Rata-rata sih untuk pemain layangan itu paling banyak di bawah 40 tahun. Di atas 40 tahun ada juga, tapi yang paling sering ikut lomba ya kebanyakan yang muda-muda,” tambahnya.
Tak hanya di arena kompetisi resmi, banyak pula anak-anak di kampung yang menjadikan layangan sebagai permainan harian. Mereka sering berkumpul di lapangan atau tanah lapang untuk beradu layangan, meski hanya sebatas hiburan.
Fenomena ini menurut Oldri menegaskan bahwa gairah falingir masih terus hidup. “Kalau istilahnya kami di layangan, cats never die. Layangan tidak akan pernah mati, karena sepanjang ada angin, sepanjang ada cuaca panas, pasti layangan ini terus digemari. Selama juga tidak dilarang pemerintah, maka hobi ini akan tetap eksis,” pungkasnya.
Dengan keterlibatan lintas generasi, Perlasi Sulut optimistis falingir tidak hanya bertahan sebagai tradisi, tetapi juga berkembang menjadi olahraga prestasi di masa mendatang.
(Fika Hamzah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....