Fenomena “Thrifting” Jadi Gaya Hidup Berkelanjutan

  • 04 Jul 2025 10:13 WIB
  •  Manado

KBRN Manado : Budaya thrifting atau membeli pakaian bekas yang masih layak pakai kini makin populer di kalangan anak muda perkotaan Indonesia. Jika dulu dianggap pilihan hemat, kini thrifting menjelma menjadi bentuk gaya hidup yang estetik, berkarakter, dan dianggap lebih ramah lingkungan.

Di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga Surabaya, toko-toko pakaian bekas tumbuh pesat, bahkan digelar dalam event khusus seperti pasar pop-up thrift dan festival preloved fashion. Anak-anak muda berburu jaket vintage, kemeja retro, hingga celana jeans branded dengan harga jauh lebih murah dibandingkan produk baru di pasaran.

Tren ini tak hanya soal ekonomi. Dalam jurnal "Thrift Shopping and Indonesian Urban Youth Fashion Consumption" (JOMEC Journal, 2022), dijelaskan bahwa anak muda urban memilih thrift bukan hanya karena murah, tetapi karena mereka ingin tampil unik sekaligus peduli terhadap krisis lingkungan. Industri fast fashion diketahui menjadi salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia. Dengan membeli pakaian bekas, para konsumen muda merasa berkontribusi mengurangi limbah tekstil dan mendukung keberlanjutan.

Penelitian lain dari Dapit Edo dkk. (2023) berjudul "Sustainable Style: Motivasi Generasi Z dalam Konsumsi Fashion Berkelanjutan di Indonesia" juga menunjukkan bahwa mayoritas responden menyebutkan alasan etika lingkungan dan pencarian identitas diri sebagai motivasi utama membeli pakaian thrift.

Fenomena ini juga semakin diperkuat dengan keberadaan media sosial. Akun-akun Instagram dan TikTok yang membagikan konten "thrift haul", tips mix and match baju preloved, serta edukasi tentang ekonomi sirkular mendapat sambutan luar biasa dari generasi muda. Mereka merasa menjadi bagian dari komunitas yang sadar lingkungan dan kreatif secara mode.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Sebagian besar produk thrift di Indonesia masih berasal dari impor dan tidak semua penjual menjalankan proses sanitasi secara maksimal. Selain itu, stigma bahwa pakaian bekas adalah milik "kelas bawah" masih melekat di beberapa lapisan masyarakat.

Namun secara keseluruhan, thrifting telah melahirkan cara baru dalam memandang gaya hidup: bukan hanya tampil keren, tetapi juga sadar terhadap dampak konsumsi pribadi terhadap bumi. Anak muda kini tidak hanya mengikuti tren, tapi menciptakan arah baru menuju budaya berpakaian yang lebih bijak dan berkelanjutan. (Apri Sri Devi Simatupang/LPU)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....