Never After Dark dan Wajah Baru Horor Jepang

  • 06 Okt 2026 21:38 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Horor Jepang selama ini lekat dengan sosok arwah pendendam, rambut panjang, rumah kosong, dan kutukan yang terus mencari korban baru. Namun, beberapa film dalam beberapa tahun terakhir mulai menggeser formula tersebut. Missing Child Videotape, Best Wishes to All, dan New Religion sama-sama memperlihatkan kecenderungan horor Jepang yang lebih psikologis, ambigu, dan tidak selalu menjadikan hantu sebagai sumber teror utama. Pola tersebut berlanjut lewat Never After Dark, film terbaru karya Dave Boyle. Dikutip dari materi resmi film dan program SXSW 2026, Boyle kembali mengeksplorasi horor Jepang melalui cerita yang memadukan supernatural, misteri, dan hubungan keluarga. Hasilnya bukan sekadar cerita tentang arwah yang ingin membalas dendam. Film ini justru perlahan membuat kita mempertanyakan siapa sebenarnya yang harus ditakuti.

Cerita berpusat pada Airi, seorang medium keliling yang pekerjaannya membantu arwah menemukan kedamaian. Bertemu hantu sudah menjadi rutinitas baginya. Situasinya berubah ketika Teiko dan putranya, Gunji, meminta Airi membersihkan sebuah hotel terpencil yang akan direnovasi. Di sana, Airi menemukan sesuatu yang berbeda. Arwah-arwah di hotel tersebut memang mengganggu, tetapi semakin jauh ia menyelidiki tempat itu, semakin jelas bahwa manusia yang masih hidup justru menyimpan ancaman yang lebih besar. Dikutip dari sinopsis resmi yang dirilis IFC Films, perjalanan Airi juga sangat personal karena ia terus ditemani Miku, arwah kakaknya yang meninggal ketika mereka masih kecil. Miku muncul melalui cermin dan berbagai bentuk refleksi. Elemen ini membuat hubungan Airi dengan dunia supernatural terasa lebih dekat. Cermin tidak sekadar menjadi tempat munculnya hantu, tetapi juga menjadi ruang yang menghubungkan Airi dengan trauma masa lalunya.

Yang membuat Never After Dark menarik adalah cara film ini membangun ketakutan secara perlahan. Dave Boyle tidak sepenuhnya mengandalkan jumpscare. Ia lebih tertarik menciptakan suasana yang membuat penonton merasa ada sesuatu yang tidak beres, bahkan sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Film ini dibintangi Moeka Hoshi, yang sebelumnya dikenal lewat serial Shōgun. Di festival, responsnya juga cukup kuat. Never After Dark memenangkan Audience Award untuk kategori Midnighter di SXSW 2026 dan Grand Jury Prize di Overlook Film Festival. Dikutip dari RogerEbert.com, film ini dipuji karena atmosfer dan ketegangannya terus meningkat sampai menuju bagian akhir yang disebut “truly insane”. Film ini juga mendapat dukungan dari nama besar horor seperti Stephen King dan Scott Derrickson. Respons tersebut cukup menarik karena menunjukkan bahwa film Boyle berhasil menemukan keseimbangan antara horor atmosferik Jepang dan pendekatan genre modern yang lebih agresif.

Never After Dark sendiri sudah tayang di Jepang pada Juni 2026 dan kemudian mendapatkan perilisan di Amerika Serikat pada 25 September. Sampai sekarang, belum ada tanggal tayang resmi untuk Indonesia. Tetapi jika melihat arahnya, film ini punya daya tarik yang cukup spesifik bagi penonton yang mulai bosan dengan formula horor tentang hantu yang sekadar muncul untuk mengejar korban. Airi justru membawa kita masuk ke wilayah yang lebih rumit. Ada arwah, ada trauma masa kecil, ada keluarga, dan ada manusia yang ternyata bisa jauh lebih mengerikan daripada sesuatu yang sudah mati. Dikutip dari materi promosi resmi Never After Dark, film ini memang menempatkan hubungan Airi dan Miku sebagai pusat emosional ceritanya. Jadi, ketika akhirnya kita melihat apa yang sebenarnya terjadi di hotel tersebut, pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa hantunya. Pertanyaannya adalah apa yang membuat seseorang tetap dihantui bahkan ketika tidak ada arwah di hadapannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....