Synchronize Fest 2026 Kembali ke Akar Gerakan

  • 06 Okt 2026 21:38 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Synchronize Fest kembali pada 16 sampai 18 Oktober 2026 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Memasuki edisi ke-11, festival ini kembali membawa semangat “It’s Not Just a Festival, It’s a Movement.” Tema tersebut terasa semakin relevan karena Synchronize tidak sekadar mengumpulkan musisi dalam satu area. Festival ini juga mencoba mempertemukan berbagai generasi, skena, dan cara menikmati musik Indonesia. Dikutip dari situs resmi Synchronize Festival, edisi 2026 kembali dirancang sebagai ruang untuk merayakan perjalanan musik Indonesia sekaligus melihat kembali bagaimana musik terus berkembang. Karena itu, nostalgia di sini tidak berhenti pada momen “ingat lagu ini?”. Ada dorongan untuk mendengarkan kembali karya lama dengan sudut pandang hari ini.

Salah satu momen yang paling mudah memancing nostalgia datang dari pertunjukan Indonesian Girl Group. Chibi Chibi, G String, Princesstale, Super Girlies, 7icons, serta Agatha Pricilla, Febby Rastanty, Ify Alyssa, dan Sivia akan berada dalam satu rangkaian pertunjukan. Dikutip dari pengumuman lineup Synchronize Fest 2026, format ini memang dirancang untuk menghidupkan kembali memori terhadap gelombang girl group Indonesia yang pernah mendominasi musik pop anak muda. Tetapi Synchronize tidak berhenti di sana. Perunggu akan membawakan materi dari album Dalam Dinamika. Maliq & D’Essentials akan berkolaborasi dengan Jakarta Movin dalam Konser Musikal Senja Teduh Pelita. Ada pula Float yang akan membawakan materi terkait film 3 Hari Untuk Selamanya dalam perayaan 19 tahun film dan albumnya bersama demajors Records dan Miles Films. Dikutip dari pengumuman demajors Records, proyek ini sekaligus merayakan bagaimana musik dari sebuah film masih bisa menemukan pendengar baru bertahun-tahun setelah pertama kali dirilis.

Yang membuat edisi 2026 terasa berbeda justru ada pada cara Synchronize membagi ruang kurasi. Tahun ini ada empat entitas yang diberi kesempatan membawa perspektif mereka sendiri. Krapela mengisi Gigs Stage dengan spektrum genre dan subgenre underground Indonesia. LaMunai Records membawa Oleng Upuk dengan kultur dansa dan musik elektronik, termasuk Habibi Funk, PNNY, Prontaxan, serta penampilan khusus Dipha Barus. Panggung Getarrr kembali dikurasi Kobra Musik yang dipimpin Dado Darmawan, dengan eksplorasi musik orkes dan tradisi gendang dari berbagai daerah. Sementara itu, RedWhite Jazz Lounge dikurasi Indra Lesmana dengan format yang lebih cair, mulai dari jam session, live session, DJ set, sampai talkshow. Dikutip dari pengumuman resmi lineup Synchronize Fest 2026, pendekatan ini membuat festival memiliki delapan panggung dengan karakter berbeda. Jadi, pilihan penonton tidak lagi hanya berdasarkan siapa musisi yang paling populer, tetapi juga berdasarkan skena mana yang ingin mereka telusuri.

Pada akhirnya, kekuatan Synchronize Fest 2026 justru ada pada keberanian mempertemukan hal-hal yang biasanya berjalan sendiri-sendiri. Girl group era 2000-an bertemu generasi pendengar baru. Album lama kembali dimainkan dalam konteks yang berbeda. Musik underground mendapatkan ruang kurasi khusus. Jazz diberi tempat untuk berkembang lewat format yang lebih terbuka. Musik orkes dan elektronik pun bisa hadir dalam satu festival yang sama. Dikutip dari situs resmi Synchronize Festival, semangat “It’s Not Just a Festival, It’s a Movement” tetap menjadi fondasi penyelenggaraan tahun ini. Kalau datang pada 16 sampai 18 Oktober nanti, mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan cuma “siapa yang mau kamu tonton?”, tetapi “skena musik apa yang belum pernah kamu coba dengarkan?”. Di situlah konsep Synchronize sebagai sebuah movement mulai terasa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....