Macklemore Mengubah Panggung Jadi Perlawanan
- 06 Okt 2026 21:37 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – “So, as you all know, my schedule freed up a bit.” Kalimat itu ditulis Macklemore dalam unggahan Instagram saat mengumumkan Free Palestine Tour pada 24 September 2026. Kalimatnya terdengar santai, tetapi konteksnya cukup serius. Beberapa hari sebelumnya, Macklemore dikeluarkan dari sisa rangkaian tur Amerika Serikat Ed Sheeran setelah menyampaikan dukungan untuk Palestina di atas panggung MetLife Stadium pada 4 September. Dikutip dari Reuters, keputusan tersebut berkaitan dengan penolakan sejumlah pemilik venue terhadap kehadiran Macklemore dalam rangkaian tur. Promotor Messina Touring Group kemudian mengonfirmasi bahwa Macklemore tidak akan tampil pada sisa jadwal tersebut. Bagi Macklemore, kehilangan panggung itu justru membuka ruang untuk membuat panggungnya sendiri.
Dari situlah Free Palestine Tour muncul. Dalam unggahannya, Macklemore mengatakan bahwa beberapa tahun terakhir telah memperlihatkan perubahan dalam kesadaran publik mengenai pembebasan Palestina, kekuatan kelompok miliarder yang berusaha membungkam suara tersebut, serta ekspektasi terhadap musisi hari ini. “It’s 2026. Being apolitical during a genocide doesn’t work anymore,” tulisnya. Dikutip langsung dari pengumuman Macklemore yang dimuat Pitchfork, ia mengatakan telah menghubungi sejumlah musisi yang selama ini menggunakan panggung mereka untuk menunjukkan solidaritas kepada warga Palestina. Ia juga ingin melibatkan “artists who understand that our platforms mean very little if we’re only willing to use them when it’s safe.” Pernyataan ini penting karena Macklemore tidak sekadar memindahkan konsernya ke tempat lain. Ia sedang mencoba mengubah situasi yang merugikannya secara profesional menjadi sebuah acara yang secara terang-terangan membawa agenda solidaritas politik.
Untuk tahap awal, tur ini dijadwalkan berlangsung di Dublin pada 26 Oktober, Paris pada 29 Oktober, dan London pada 30 Oktober 2026. Dikutip dari JamBase, Macklemore juga mengatakan bahwa nama artis lain dan jadwal di Amerika Serikat akan diumumkan kemudian. Seluruh keuntungan dari pertunjukan tersebut akan diberikan kepada organisasi yang mendukung warga Palestina dan gerakan pembebasan Palestina. Menariknya, konsep ini langsung mendapat respons besar. People melaporkan pada awal Oktober bahwa ketiga pertunjukan tersebut telah sold out segera setelah tiket mulai dijual. Artinya, kontroversi yang sempat membuat Macklemore kehilangan panggung besar justru menghasilkan momentum baru dengan format yang sepenuhnya ia kendalikan.
Yang membuat cerita ini semakin menarik adalah cara Macklemore memandang posisi seorang musisi di tengah isu politik. Ia memang sudah lama menyuarakan Palestina. Pada 2024, ia merilis Hind’s Hall sebagai respons terhadap perang di Gaza dan dukungan terhadap gerakan pro-Palestina. Namun, kasus tur Ed Sheeran memperlihatkan konsekuensi yang lebih konkret ketika pernyataan tersebut dibawa ke panggung dengan audiens puluhan ribu orang. Dikutip dari Reuters, Macklemore sebelumnya mengatakan bahwa salah satu alasan ia mengikuti tur tersebut adalah agar bisa berdiri di depan penonton Amerika dan mengatakan “Free Palestine.” Sekarang ia mendapatkan panggung yang jauh lebih spesifik untuk tujuan itu. Terlepas dari bagaimana orang menilai posisi politik Macklemore, strategi ini menunjukkan bahwa platform seorang musisi dapat digunakan untuk menggalang perhatian, membangun komunitas, sekaligus mengarahkan uang konser kepada organisasi yang dituju. Free Palestine Tour akhirnya menjadi lebih dari sekadar rangkaian konser. Ia menjadi eksperimen tentang seberapa jauh musik dapat digunakan sebagai ruang advokasi ketika seorang artis memilih untuk tidak memisahkan panggungnya dari isu yang ia perjuangkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....